• Tuesday, January 28, 2020

    Sajak Pagi Ini


    Hingga kemarin aku masih melintas di jalan yang sama denganmu, Tuan. Sesekali melambai dan menyapa walau tak berbalas. Lain waktu hanya melihatmu dari kejauhan. Hari ini, jalan yang kupilih sudah berbeda. Lengan, bibir, dan langkahku akhirnya menyerah.

    Terima kasih telah menganggapku tiada selama ini, Tuan. Semoga kelak kau tak menyapaku kembali saat telingaku sudah tuli. Melambai kembali saat mataku sudah buta. Semoga saat itu tiba, kemunculanmu tak menimbulkan tawa. Ketahuilah, aku juga bisa mati rasa.

    Jadi, hingga saatnya tiba nikmatilah semuanya. Temuilah nona-nona lain yang akan mengubah dukamu menjadi tawa. Tapi, saat kau rasakan kekosongan yang tak dapat mereka isi ... telanlah kekecewaanmu sendiri. Cecaplah kopimu yang nanti terasa hambar.

    Lukislah sesalmu di dinding kamar, Tuan. Semoga pintu lemari tak ikut berderit menertawaimu. Semoga kenangan tak menyeruak masuk memenuhi kepalamu. Semoga tak kau ingat lagi nona berambut pendek yang kau acuhkan kala itu. Dia tak lagi berada di jalanmu.

    Terima kasih telah mengajariku arti patah hati. Jika bukan karenamu sajak-sajak ini tak akan muncul sejak pagi. Cukuplah empat minggu kulalui berteman sendu. Hari ini aku berhenti, Tuan.

    Selamat tinggal.

    Tuesday, January 14, 2020

    Alasanku

    Kamu bisa memintaku berhenti menjadi pasanganmu

    Tapi kamu tak bisa memintaku untuk berhenti peduli

    Tak bisa kamu pinta aku 'tuk berhenti menjadi temanmu

    Tak bisa kamu pinta aku 'tuk berhenti

    Aku belum lelah, aku belum menyerah

    Jadi hingga saatnya tiba, terbiasalah dengan hadirku

    Lain waktu, jika kau tak lagi nyaman, aku akan menghilang perlahan

    Tapi, sekali lagi, aku takkan pernah lupa ... pada hati yang pernah singgah walau hanya sementara

    Denganmu, tiada alasan 'tuk membenci

    Untuk itu, tiada alasan 'tuk melupakan

    Semoga kelak kamu 'kan mengerti

    Wednesday, January 8, 2020

    A Letter to You

    a-letter-to-you

    Halo kamu, 

    Kini kurasa tak sulit lagi bagimu tidur tanpa pesan dariku, bangun tanpa telepon dariku, serta melepas penat dan lelah tanpa chat-chat konyol dariku. Kini kamu berdiri sendiri tanpaku. Mungkin malah nomorku tak lagi kamu simpan? 

    Entahlah. Namun bagiku pikiran-pikiran pedih begitulah yang membantuku maju, melupakanmu. 

    Masih ingat pukul satu pagi di akhir tahun kemarin? Aku memberondongmu dengan jutaan pesan sejak kau abaikan aku tiga hari belakangan. Yang aku tahu ada yang tak beres di sana. Sebut saja prioritas, dulu kamu pernah sebegitu fokusnya padaku hingga lupa pada yang lain. Tapi hilangnya kamu dalam 3 hari benar-benar bukan hal baik di kepalaku. Memang aku sengaja memberimu waktu, katamu pekerjaanmu sedang ada di ujung tanduk. Pun aku tak ingin segitu mengikat dan menempel. Kamu butuh waktu, kuberikan padamu. Tapi ada yang berubah di sana. Katamu jika menghilang 3 hari tanpa kabar berarti kau sudah tiada lagi bukan? Di situlah aku mulai berpikir, ada yang salah. Dan ya … benar saja. Tepat pagi itu, jam satu, sepulang dari meeting kamu sampaikan segalanya: sesuatu yang sebenarnya sudah ada di benakku, ketakutan terbesarku yang jadi nyata. Tahukah kamu? Sesungguhnya seharian aku telah mencoba berbaik sangka, menyibukkan diri, bahkan menyebut namamu dalam doaku. Begitu terbangun dijam 8 aku sebegitu paniknya, entah kenapa. Aku putus asa, aku rindu, aku khawatir dan kamu tak juga sadar. Atau mungkin sadar namun sengaja mendiamkan?

    Ah, mungkin kamu lupa bahwa aku pernah berkata: jika ingin pergi beritahu padaku, jangan menghilang begitu saja. Tapi, janjimu hilang dalam diam. Jika tak kutanyakan, mungkin takkan kau katakan. Namun diam dalam hidupku tak pernah berarti baik. Aku—entah bagaimana—telah memprediksikan itu semua. Dan sungguh, tak mengagetkan melihat kamu telah mendiamkanku selama tiga hari. Yang membuatku kaget adalah … hingga kini aku tak tahu apa sebabnya. 

    Di kepalaku ada sejuta kemungkinan. Kemungkinan terbaik adalah karena pekerjaanmu, yang benar-benar kumaklumi. Sungguh, andai kata kamu sesibuk itu sesungguhnya aku maklum jika kita hanya bisa bertukar selamat pagi dan selamat tidur. Namun lagi-lagi aku tak bisa meraba isi kepalamu yang luar biasa. Apa alasan sesungguhnya? Katamu kamu pun tak ingin melepas, tapi takdir berkata lain. Maka takdir apakah itu, Tuan? Hingga kini kamu bungkam dan bahkan tak membaca pesan terakhirku. Katamu selalu dua-tiga hari. Namun terhitung hari itu … kini sudah delapan hari, Tuan. 

    Dulu kamu sebegitu takutnya aku pergi. Kini, kamu meninggalkanku bahkan tanpa alasan. Andai kau bilang rasa itu sudah tak ada, ada yang lain di sana, atau bahkan kau telah dijodohkan … sungguh akan lebih mudah bagiku mengertimu. Tapi kini harus apalah aku dengan kebungkamanmu? 

    Logikaku berkata pikirkan semua yang buruk tentangmu agar mudah bagiku untuk terus melangkah maju. Hatiku berkata sebaliknya. Entah bagaimana, kurasa kau akan tersadar dan menyesal, lalu meminta maaf karena telah mengabaikan semua pesanku. Kamu akan menjelaskan segalanya. Entah kapan, tapi ada bagian dari diriku yang selalu percaya padamu: kamu tak sejahat itu. 

    Oh ya, diputuskan tanpa alasan tidak jahat ya? 

    Aku tidak tahu. Yang kutahu sebelum menghilang kamu masih sebegitu sayangnya. Kamu tulus dan aku merasakannya. Denganmu aku percaya tanpa tahu mengapa. Karenamu aku berhenti mencari. Bersamamu aku belajar bahwa menemukan seseorang yang dapat saling mempercayai, setia, dan jujur bukanlah mustahil. Yang kupercaya Tuhan mempertemukan kita. Denganmu aku tahu semuanya terasa benar, semuanya terasa mudah. Semuanya … terasa terlalu sempurna. Hatiku kerap bertanya: dengan hati yang sama-sama sekuat ini halangan apakah yang akan menghancurkan? 

    Oh, aku kelewat percaya diri. Lupa bahwa Tuhan maha pembolak-balik hati. Bukan, bukan hatiku, tapi hati dan hidupmu yang berubah. Ah sedih, padahal aku takut jika suatu saat harus mematahkan hatimu, beranjak pergi meski kamu sebegitu baiknya. Aku selalu takut jika nantinya akan menyakitimu. Ternyata kamu yang melakukannya. Benar-benar tak tepikirkan olehku. Harapan terlalu tinggi, kini aku kelewat sakit karena jatuh sebegitu kerasnya. 

    Sedih jika mengingat bahwa baru saja dua minggu belakangan aku sadar akan perasaanmu. Aku mulai membuka diri, jujur, dan mencintaimu tanpa takut apa-apa. Bagiku, cinta tak pernah setengah-setengah. Maka ketahuilah, cintaku saat itu memang sebegitu dalamnya. Aku mencintaimu tanpa takut akan segalanya. Aku tak takut mengungkapkan, aku tak ingin memendam. Padamu aku belajar menumpahkan segalanya. Denganmu aku belajar untuk lebih terbuka. Semuanya karena ketulusanmu itu. 

    Kamu yang tak pernah memaksa. Kamu tak pernah meminta. Kamu tak menahanku. Pun kamu tak pernah memarahiku. Saat itu kamu tak tega. Kamu menjaga perasaanku hingga bagian terkecilnya. Kamu pernah menyayangiku sebegitu tulusnya, dulu. 

    Kini, mungkin rasa itu tak ada lagi. Pun hatiku sudah terlanjur rusak. Rasa untukmu pun kian terkikis hari demi hari. Aku membunuh harapan agar tak menunggumu lagi, agar tak mengharapmu lagi. Karena apalah arti aku menunggu jika rasamu tiada lagi di situ? 

    Katamu, kamu ingin aku kembali terbiasa seperti dulu lagi bukan? 

    Sudah, kini aku mulai terbiasa tanpamu lagi. Kuanggap sebuah prestasi setelah dua hari menangisimu tanpa henti. Kamu meninggalkanku disaat rasa itu sedang hangat-hangatnya. Kamu meninggalkanku … disaat aku baru saja menguatkan diri agar bisa melalui hubungan jarak jauh ini. 

    Denganmu aku melupakan perkara perselingkuhan, perkara kebohongan. Dan kamu pun sama bukan? Pun komunikasi kita sebegitu intensnya hingga aku merasa jarak bukanlah masalah. Setiap malam ketika kita berbalas pesan … kurasakan kedekatan emosional denganmu. Kita tak sejauh itu, kata hatiku, dulu. 

    Kini … aku tak lagi mengecekmu di whatsapp. Aku lupa, belajar lupa agar kamu tak lagi di sana … menambah rasa sakit. Kamu tak lagi peduli, lalu untuk apa aku terus menangisi? 

    Mungkin sempat aku ingin mempertanyakan segalanya. Ingin aku membahas segalanya. Namun kini … rasa itu telah layu. Dulu, rinduku menggebu-gebu, tak tahu malu. Kini … sudah jadi abu. 

    Mungkin mendiamkanku adalah cara berpisah terbaik bagimu. Mungkin memang benar. Bagiku … didiamkan adalah bentuk ketidakpedulian. Dan kamu kuberi nilai sempurna untuk itu. Mungkin tiada rasa sakit di hatimu, mungkin tiada sepi juga yang tertinggal di sana. Maka … semoga hal-hal yang kualami tak perlu kamu alami. Di awal biarlah aku hancur karena harapanku yang kelewat tinggi padamu. Nanti, jika kamu akhirnya berhenti berjalan dan menoleh ke belakang … jangan berani untuk menunjukkan rasa sesal. Jangan pula mundur dan mencariku di sana. Karena di saat itu mungkin aku telah jauh melangkah melampauimu. Mungkin aku kan menoleh saat kamu memanggilku, tapi mungkin … aku tak akan menunggumu, menyambutmu. 

    Mungkin aku telah memaafkanmu, memaafkan diriku, dan menerima segalanya. Tapi … mungkin rasa itu tak lagi di sana. Entahlah. Aku pernah mencinta, tapi aku takkan menunggu selamanya. Maka, selagi masih tersisa … kembalilah jika kamu ingin kembali. Jika kelewat lama … mungkin aku sudah mati rasa. Mungkin aku merindukan kenangan kita, tapi aku tak lagi merindukanmu. Mungkin. 

    Ketahuilah … karenamu, aku sempat gerah berada di aplikasi whatsapp. Aku ingin membakar bandara. Aku bahkan menyesal kenapa mesti memberikan nomorku dari awal jika akhirnya jadi sesulit itu. Aku pernah bahagia, mengira kamu adalah kado di umurku yang baru menginjak seperempat abad. Aku pernah bahagia, mengira kamulah orangnya. Kukira kamulah pelabuhan terakhirku: mengingat kita sempat berpikiran sama. Kita sempat mengira bahwa satu sama lainlah pasangan yang kita tunggu selama ini bukan? Ah, penilaian yang terlalu cepat? Kurasa tidak, aku masih percaya Tuhanlah yang membuatku seyakin itu. Denganmu semua terasa berbeda. 

    Namun denganmu … akhirnya aku hancur juga. Lalu dimanakah bedanya? 

    Aku tidak tahu. Denganmu … kini hanya waktu yang akan menjawab segalanya. Aku masih manusia, tak dapat mengintip takdirNya. Entah kita akan berakhir dan menghilang begitu saja … siapa yang tahu? 

    Kini, aku hanya bisa memperbaiki diri sembari menguatkan hati untuk membuka kembali. Ketika kusiap nanti … aku kan ada di sana, entah untukmu entah untuk orang lain. Yang pasti kini aku telah belajar merelakanmu, mengikhlaskanmu. Katanya … jodoh pasti bertemu bukan? 

    Aku percaya kalimat itu. Aku percaya Tuhanku. Aku juga percaya kamu, sejak dulu. Kini … kepercayaan itu terkikis bersama dengan kepergianmu. 

    Maaf, aku pun tak sempurna dan banyak cacat. Aku tak akan menuntut kesempurnaan karena diriku pun banyak kekurangan. Jika aku pernah menyakitimu … dari hati aku memohon maaf padamu. 

    Ingatlah, aku pernah menyayangimu. Kamu pernah menyayangiku. Kita pernah saling menjaga, sampai akhirnya saling melepaskan. Kita pernah saling membahagiakan sampai akhirnya ... apa? Saling menyakiti? Kurasa tak begitu. Sekali lagi, bukan aku yang menyerah pada keadaan. Bahkan jika memang sulit, bukankah seharusnya kita sama-sama berjuang? 

    Adakah pembelaanmu untuk semua ini, Tuan? 

    Ada ya? 

    Semoga kelak kau kan bicara. Meski pada akhirnya … telingaku sudah tak ingin mendengarnya. 

    Apa pun akhirnya, kuharap kita saling bahagia. Entah dengan satu sama lain atau dengan orang lain. 

    Oh ya, kamu … orang pertama yang pernah kucintai sedalam itu. Ingatlah itu, Tuan. Aku tak menyesal pernah mencintaimu. Yang kusesalkan … mengapa perpisahan itu begitu mendadak? Mengapa rasanya seperti direnggut paksa? 

    Tapi sudahlah. Yang sudah biarlah sudah. 

    Pun suratku sudah kelewat panjang. 

    Surat .. yang tak akan kusampaikan langsung padamu. Namun kan tertulis di sini, tergores di sini … beranda blogku. Barangkali kamu akan mampir suatu hari nanti? Atau tidak? 

    Aku sudah tak peduli. 

    Sekali lagi, aku tak tahu malu dalam hal mencintai. 

    Iya aku, yang dulu pernah menemani malam-malammu dengan obrolan panjang hingga berjam-jam. 

    Kini … kamu adalah kamu. 

    Aku adalah aku. 

    Sejak saat itu … tiada lagi kita 

    Sejak saat itu … tiada lagi kata. 

    Terima kasih, karenamu aku sempat membenci lagu-lagu cinta. Karenamu aku sempat ingin berteriak gila lewat nyanyian-nyanyian patah hati. Karenamu … kini aku berevolusi. Akulah phoenix, yang lahir kembali dari kepingan diriku yang hancur. Karena kau hancurkan … kini aku menguat kembali. Semoga … kelak kau tak dapatkan perlakuan yang sama dari orang lain. Biarlah aku saja, kamu tak akan kuat. Maka dari itu … 

    Selamat bersenang-senang, kamu. 

    Salam dariku, 

    Wanitamu, dulu.
    COPYRIGHT © 2017 · Nurul Hikmah S. | THEME BY RUMAH ES