• Wednesday, February 26, 2020

    Kompilasi Pesan untuk Tuan #2

    Deretan pesan tak tersampaikan

    01 Februari 2020 - 29 Februari 2020



    #1 Tuan, bicaralah padaku kapan-kapan.

    Aku masih mencintaimu.

    ----------------

    #2 Karenamu aku melarung rindu.

    ----------------

    #3 Aku tak membencimu, aku juga tak marah. Kamu diam aku maklum. Kalau suatu saat kamu mau bicara ... silakan. Apa pun yang kamu lakukan sejauh ini ... aku tetap percaya kamu punya alasan, kamu tak sejahat itu.

    ----------------

    #4 Kalau kamu butuh ... aku masih di sini.

    ----------------

    #5 Aku pernah pura-pura buta pada yang ada, demi menanti kamu yang jelas-jelas sudah tiada.

    ----------------

    #6 Aku masih peduli walau kita tak lagi saling mengabari.

    ----------------

    #7 Kita (tidak) baik-baik saja.

    ----------------

    #8 Saya tidak merindu kamu atau kenangan kita dulu. Saya rindu kamu yang baik-baik saja. Sebagaimana saya baik-baik saja, semoga kelak kamu kan begitu juga hingga kita bisa bicara tanpa mengingat luka atau berprasangka. Sebab saya sudah rela, semoga kamu juga.

    ----------------

    #9 Bulan lalu aku masih berupaya karena menganggap kita bisa berteman kembali. Namun sejak akhir bulan aku berhenti sebab aku tak mau ini jadi kebiasaan: kamu terbiasa mengabaikan, sementara aku terbiasa memaklumi. Kalau pun hingga nanti kau tak sadar ... aku sudah tak peduli.

    ----------------

    #10 Kala itu ada rindu yang berserakan di antara bangku taman, derit ayunan, daun-daun yang berjatuhan, buku-buku masakan, denting spatula dan wajan, serta lalu-lalang kerumunan.

    Kini rindu itu telah tersapu oleh waktu. Yang tersisa hanyalah kisah-kisah tentangmu.

    ----------------

    #11 Aku percaya kita bisa berteman lagi. Entahlah denganmu. Barangkali memang ada perasaan yang sulit diredam ketika kata kembali bertautan. Mungkin kamu takut ada rindu yang kembali datang. Mungkin memang sulit memulai kembali setelah sempat menaruh hati.

    Mungkin.

    Begitukah?

    ----------------

    #12 Pulanglah, aku masih mencintaimu. Sebab hingga detik ini rindu pun masih milikmu.

    ----------------

    #13 Pulanglah, aku masih rumahmu.

    Friday, January 31, 2020

    Kompilasi Pesan untuk Tuan #1

    Deretan pesan tak tersampaikan
    01 Januari 2020 - 31 Januari 2020


    #1 Karena perasaanku padamu bukan seperti nyala lampu yang padam begitu saja saat sakelarnya kau tekan.

    ----------------

    #2 Bagiku … didiamkan adalah bentuk ketidakpedulian. Dan kamu kuberi nilai sempurna untuk itu.

    ----------------

    #3 Teruntuk kamu, 

    Rinduku sudah mulai layu.
    Rindumu?

    ----------------

    #4 Padamu tiada alasan membenci, tiada alasan 'tuk marah. Tak apa jika kau mengembara jauh, tapi aku masih berada di sini ... jika suatu saat kau butuh.

    ----------------

    #5 Tepat 25 hari sejak kamu ucapkan perpisahan.
    I love you, but I'm letting go.

    ----------------

    #6 Buatlah jeda panjang sampai saya lupa kalau kalimatmu berhenti di koma. Biar saya anggap titik saja agar tak ada lagi keinginan untuk mengusik.

    ----------------

    #7 Jika kisah kita diibaratkan buku, begitu sampai di halaman terakhir barangkali sudah kubanting. Bukan hanya endingnya yang tidak jelas, tokoh utamanya juga menyedihkan: yang satunya sibuk memanggil dia yang telah pergi, sementara yang satunya sibuk berpura-pura tuli.

    ----------------

    #8 Dulu aku duduk berteman angin sore saat menyadari hadirmu terasa dekat meski kau jauh. Kini, aku masih duduk berteman angin sore saat menyadari kau kian jauh dan tak acuh.

    Tuesday, January 28, 2020

    Sajak Pagi Ini


    Hingga kemarin aku masih melintas di jalan yang sama denganmu, Tuan. Sesekali melambai dan menyapa walau tak berbalas. Lain waktu hanya melihatmu dari kejauhan. Hari ini, jalan yang kupilih sudah berbeda. Lengan, bibir, dan langkahku akhirnya menyerah.

    Terima kasih telah menganggapku tiada selama ini, Tuan. Semoga kelak kau tak menyapaku kembali saat telingaku sudah tuli. Melambai kembali saat mataku sudah buta. Semoga saat itu tiba, kemunculanmu tak menimbulkan tawa. Ketahuilah, aku juga bisa mati rasa.

    Jadi, hingga saatnya tiba nikmatilah semuanya. Temuilah nona-nona lain yang akan mengubah dukamu menjadi tawa. Tapi, saat kau rasakan kekosongan yang tak dapat mereka isi ... telanlah kekecewaanmu sendiri. Cecaplah kopimu yang nanti terasa hambar.

    Lukislah sesalmu di dinding kamar, Tuan. Semoga pintu lemari tak ikut berderit menertawaimu. Semoga kenangan tak menyeruak masuk memenuhi kepalamu. Semoga tak kau ingat lagi nona berambut pendek yang kau acuhkan kala itu. Dia tak lagi berada di jalanmu.

    Terima kasih telah mengajariku arti patah hati. Jika bukan karenamu sajak-sajak ini tak akan muncul sejak pagi. Cukuplah empat minggu kulalui berteman sendu. Hari ini aku berhenti, Tuan.

    Selamat tinggal.
    COPYRIGHT © 2017 · Nurul Hikmah S. | THEME BY RUMAH ES