• Thursday, February 9, 2017

    Pengecualian


    Hujan di pelataran, kusen nan muram, serta ketergesaan-gesaan jadi tiga hal yang mengawali pertemuan di awal bulan itu. Kukira seharian bisa leyeh-leyeh di depan televisi yang dibiarkan menyala tanpa suara. Tapi nyatanya pesan singkat dari Alvaro yang agak mengejutkan itu ampuh juga jadi pecut untukku. Tanpa menyisakan waktu untuk terus bermalas-malasan segera kukenakan pakaian yang parahnya belum sempat kusetrika. Oh, abaikan. Ini hanya Varo, jadi tampil dengan wajah kumuh pun bukan perkara besar.

    Berbekal pesannya tentang kafe dengan kusen lebar berwarna kelabu disalah satu tempat perbelanjaan terbesar di kota kecil ini aku pun berpetualang. Pria itu memang suka begini, agak kekanakan. Ketimbang menulis nama kafenya dia lebih memilih untuk mendeskripsikan tempat yang diinginkan. Tujuannya sih biar bikin penasaran—plus membuatku kebingungan. Sebab dia senang melihat wajahku yang sedang bingung, mirip macan kesasar katanya. Sialan.

    Jadi saat kutemukan kafe yang persis dengan deskripsinya dalam pesan singkat aku akhirnya lega. Sebab mengenalinya dalam balutan parka sewarna mocca bukanlah hal yang menyulitkan. Itu dia: sedang sibuk menunduk. Tatapannya terkunci pada gawai yang ada di tangan kanannya.

    “Hoi!” sapaku sambil duduk pada kursi kayu berpelitur yang ada di seberangnya.

    Serta merta Varo tersadar dan hilang konsentrasi pada gawainya. Mungkin mood-nya sedang buruk. Sebab sampai saat menyimpan gawainya dalam saku parkanya pun dia hanya terdiam tanpa membalas sapaan dari sahabatnya ini. Jangankan menjawab, senyum pun tidak.

    “Ngganggu ya, Ra?”

    Duh, malah basa-basi.

    Aku memutar bola mata sambil terkekeh, berharap Varo tidak lagi memasang tampang datar tanpa ekspresinya itu.

    “Kayak nggak tau aja kalau lagi hujan gini aku suka mager. Liat nih, sampai makai baju kusut. It’s your fault.” candaku—pura-pura marah—sambil menudingnya dengan telunjuk.

    Kesal memang mesti dibangunkan dimasa tidur-tidur panjang yang menyenangkan. Tapi Varo sudah jauh-jauh terbang dari Australia pada masa sibuknya ini entah untuk apa, maka beginilah jadinya. Bahkan—jika memang diperlukan—terbang tengah malam di tengah hujan pun aku rela untuknya.

    “Lah, kenapa nggak pakai piyama aja tadi ke sini?”

    “Kupret.” Kulemparkan tisu yang nyatanya dapat ia hindari.

    Meskipun hanya sebatas garis tipis dia akhirnya tersenyum. Ia lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. Lalu kami pun hanya terdiam selama beberapa saat. Sebab atmosfer ruangan terasa aneh. Seolah-olah kami tak diizinkan untuk bicara hingga waktunya tiba. Jadi yang kami lakukan adalah saling memandang lalu senyum-senyum sendiri. Seolah ada sesuatu yang sejak awal mestinya kami tertawakan tanpa perlu saling mengingatkan.

    Genap tujuh bulan sudah sejak Varo berangkat ke Australia demi mengejar S2-nya. Bukannya putus komunikasi, intensitas pesan singkat dan obrolan lainnya antara kami malah semakin meningkat. Dia senang menceritakan betapa gadis-gadis Aussie sangat menarik dan enak dilirik. Pun katanya tak ada gadis melankolis nan sangar sepertiku di sana, jadi tak ada hal konyol yang dapat ia tertawai. Aku juga begitu, masih mengabarkannya perkembanganku di tempat kerja baru. Betapa dalam tujuh bulan ini aku telah berubah banyak.

    Namun di mataku Varo masih tampak sama, tak ada yang berubah. Rambutnya masih klimis berkat kegemarannya memakai pomade—hal yang sampai saat ini masih kubenci. Matanya juga, bersinar cerah dan tampak hidup—yang bagiku terlihat kekanak-kanakan. Namun di sana terlihat ada yang berbeda: sesuatu yang terlihat sendu dan kelabu. Persis seperti kusen di kafe itu.

    Jadi saat Varo berdeham pelan aku hanya bisa diam dan coba untuk mendengarkan. Sebab tentu bukan tanpa alasan dia kembali ke kota ini. Tahu-tahu dia sudah ada di sini, tanpa permisi.

    “Ra.”

    “Hm?”

    “Kok nggak cerita-cerita sih kalau lagi dekat sama seseorang?”

    Uhm … sesungguhnya bukan pertanyaan itu yang kuharapkan keluar dari bibirnya.

    Maka sambil memegangi pinggiran tote bag yang kini kupangku aku pun tersenyum, kali ini lebih lebar dari yang semula.

    “Halah, norak ah. Kamu kan juga udah tahu kalau aku nggak suka cerita masalah yang kayak gitu. Lagian nggak penting juga. Haha.” jawabku, diakhiri dengan tawa yang terasa hambar.

    Aku menunduk memandangi sepatuku yang terlihat lembab. Agaknya dari sudut mataku Varo terlihat sangat tenang, berbeda denganku yang kini mulai tegang. Entah apa hubungannya antara pertanyaannya dengan kedatangannya yang terkesan tergesa-gesa.

    “Oh ya, Var tad—“

    “Tapi kamu mau nikah. Menurutmu itu nggak penting buat aku?”

    Bam!

    Sekali lagi aku tertawa hambar. Bingung mesti bereaksi seperti apa. Dengan sedikit keberanian aku mendongak dan menatap Varo lembut. Salahku memang, tak memberitahunya perihal pria yang kukenal empat bulan lalu saat berkunjung ke sebuah yayasan. Dia yang kemudian membuatku melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Lalu terpesona dan jatuh cinta saat keberaniannya melamarku di depan keluarga terealisasi jua. Tapi … harusnya Varo tahu—aku sudah bilang padanya—bahwa sejak SMP aku tak pernah bercerita tentang hati pada siapapun. Bahkan pada Cici dan Dyana, sahabatku sejak delapan tahun lalu. Yah, Cici dan Dyana yang bahkan mengenalku jauh lebih lama dibanding Varo. Meskipun ujung-ujungnya hal itu pernah jadi masalah juga antara kami bertiga, beberapa tahun yang lalu. 

    Tapi lihatlah, lagi-lagi aku tersangkut masalah yang sama. Tampaknya semua sahabatku tak rela jika masalah hati ini hanya kusimpan sendiri. Mereka ingin aku berbagi. Sebab tanpa itu mereka merasa diragukan. Lalu akulah yang tersudutkan … seperti saat ini.

    “Var, I thought you knew me better than that. So … that's not a big deal, you know.”

    “I am.”

    “And then?”

    “Well, okelah. Dia memang persis kriteria idamanmu, si tuan kacamata berambut gondrong. Tapi … kalian kan baru kenal empat bulan, Ra. Are you freakin’ crazy or what? Bahkan aku aja belum kamu kenalin.”

    Saat itu juga dahiku berkerut. Keputusanku untuk memilih pendamping hidup yang akhirnya diragukan oleh sahabatku sendiri bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Rasanya aku jadi kepengen meremas kaleng sampai remuk.

    “You underestimate my choice, Var? Seriously? How dare yo—“

    “Ya bukan gitu juga maksudnya. Jangan marah dulu. Santai … santai.”

    Varo mengangkat kedua tangannya dengan ekspresi menenangkan. Agaknya dia tahu bahwa dia salah bicara. Yang seperti inilah yang biasanya gampang memicu pertengkaran. Tak ingin ambil resiko akhirnya dia pun mengalah, tentu karena dialah yang salah.

    “Gini ya,”—Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, seperti ingin berdiskusi—“Aku tahu kamu nggak mau pacaran lama-lama. Tapi … kenapa nggak saling mengenal aja dulu biar kamu tahu baik buruknya. Ini aja aku yakin Cici sama Dyana belum kamu kenalin kan? Nah, terus kalau ternyata dia itu ngg—”

    “Aku nggak bisa nunggu terlalu lama Var.” potongku cepat.

    Kalimat yang kuucapkan barusan ibarat angin dingin yang meniup kuduk. Bahkan dengan mengucapkannya saja jelas sudah bahwa aku cukup putus asa untuk menunggu pria lainnya. Lagipula saat dia—yang menurutmu memang ditakdirkan untukmu—datang dengan keberanian, apa lagi yang lebih kau harapkan? Umurku sudah dua puluh tujuh tahun. Dan selama itu aku sudah pasrah menjalani hari tanpa siapapun. Jadi apalagi yang mesti kutunggu?

    Aku tahu Varo tidak setuju. Jika pria terkenal keras kepala, maka aku lebih lagi. Kami bisa saja bertengkar setelah ini. Seharusnya akulah yang marah, tapi Varo pula yang terlihat kesal.

    “Var, dia udah sanggup ngelamar aku lho. Aku, yang nggak ada apa-apanya gini. Dapet dia aku ngerasa beruntung. Lagian aku juga ud—”

    “So if I did it earlier, would you say yes too?”

    Yang kutahu setelahnya jarum jam berhenti bergerak. Orang-orang yang berlalu-lalang terdiam di tempat seakan-akan tak bernyawa. Di sekitar tak ada bunyi yang mendistraksi. Yang kudengar hanyalah rintik hujan, yang masuk lewat kusen kelabu berwajah muram. Untuk tahun-tahun yang kulewati dengan penantian … entah kenapa ujungnya berakhir penyesalan.

    Pria itu—yang kini sedang duduk di hadapanku—wajahnya terlihat sendu, namun rahangnya mengeras. Matanya bercerita tentang apa yang tersimpan di dalamnya. Oh, aku hampir saja lupa … bahwa dulu pernah ada malam-malam yang terlewatkan dengan dusta: bahwa kami akan jadi teman untuk selamanya. Sebab aku telah meredam perasaan yang muncul saat jari kami tak sengaja bersentuhan. Saat melihatnya tertidur di pelataran: hasil menantiku pulang dari pagelaran. Saat ia menatap tajam teman pria yang menggodaku di parkiran. Bahkan saat Dyana katakan bahwa dia terlihat tampan. 

    Empat tahun berteman, aku selalu mengingatkan diriku untuk selalu membunuh harapan. Biarlah kami terjebak dalam friendzone tak berkesudahan. Sebab dia pun tak pernah menunjukkan ketertarikan, hingga akhirnya aku pun mundur pelan-pelan dan melupakan. Bagiku, Varo akan jadi sahabat lelaki pertama yang tak akan terlupakan. Meski bagi Varo aku hanyalah sahabat perempuannya yang melankolis dan sering uring-uringan.

    Hingga kemudian aku menemukan Adnan dan dia pun menemukanku. Anggap saja sebagai akhir pencarian, sebab dengan Adnan bagaimanapun aku selalu merasa aman dan nyaman.

    Tapi kini … saat Varo mengucapkan kata-kata itu harus apalah aku?

    Ingin kukeluarkan sumpah serapah padanya, untuk segala waktu yang telah ia telantarkan. Untuk penantianku yang panjang. Untuk segalanya. Bahkan keterlambatan yang ia hadiahkan. Tapi alih-alih memukulinya tahu-tahu aku mengatakan sesuatu yang tak pernah kubayangkan.

    “I … would. But … you never asked me. Right?”

    Dan … dia pun terluka, namun dibalut oleh tawa. Harusnya dia tahu bahwa aku tidak peka untuk waktu yang lama, tapi kini … aku mengerti. Bahunya terguncang karena tawa, entah menertawai diri sendiri atau malah menertawaiku. Yang pasti kami berdua sama saja.

    “You kidding me, heh? Bilangnya selera sama yang gondrong plus kacamataan aja. Konsistenlah Ra. Aku nggak lagi becanda.” jelas Varo sambil meluruskan kakinya untuk beberapa saat, lalu menatap langit-langit kafe.

    Kami seakan kehilangan arah pembicaraan dan tujuan. Aku bahkan bingung entah harus meneruskan atau melanjutkan kepura-puraan. Mudah untuk mengatakan bahwa aku hanya bercanda, lalu kami tinggal melanjutkan hidup masing-masing. Sama-sama terluka dan menyesal. Tapi untuk hari ini kutahu aku tak bisa melanjutkan sandiwara.

    “Iya, aku emang suka sama yang kayak gitu. But … for some people there’s an exception, Var. And … would you blame me if I said you’re the exception? The only exception?”

    Ada senandung lagu lawas yang dinyanyikan di kafe seberang. Dunia kami tak lagi diisi kekosongan dan hujan, tapi nyanyian kesepian: tentang sebuah pengecualian. Seorang gadis boleh jadi punya sosok impian sebagai pangeran dimasa depan. Namun dalam hidup ini akan selalu ada pengecualian bukan? Untuk itu aku pun demikian.

    Karena ... buatku kamu adalah pengecualian.

    ---

    1 comment:

    1. Nicely written! I truly enjoy reading it until the end :)

      ReplyDelete

    COPYRIGHT © 2017 · Nurul Hikmah S. | THEME BY RUMAH ES