Sabtu, 03 Maret 2012

Behind The Mist (Prolog)


Brighton Park

Angin musim gugur menerbangkan dedaunan pohon elm yang telah berwarna kecokelatan. Hampir bisa disebut meranggas seutuhnya jika bukan karena dua tiga helai daun cokelat yang masih bergelayutan di antara dahannya.

Dini hari di Brighton Park benar-benar dingin. Lampu taman menyala dengan sinar temaram yang tak mampu membelah kabut pagi buta yang memang membatasi jarak pandang. Mentari belum juga keluar dari peraduannya.

Seorang gadis mungil meringkuk di atas bangku taman. Bibir merahnya telah mengering sejak beberapa jam lalu dan saat ini pun mulai memucat. Jaket dan rok berbahan denim yang ia kenakan tak berarti apa-apa dalam rengkuhan dinginnya malam. Sepasang kaki kecilnya yang hanya terbungkus pantofel tua berwarna hitam yang tampak kebesaran - pun bergerak ke sana ke mari. Telapak kakinya mengerut. Namun sayup-sayup suara tikus tanah akhirnya membuatnya bergidik dan otomatis terbangun dengan nafas terengah-engah. Diedarkannya pandang ke segala arah.

Bisikan angin seolah memberinya sugesti agar menoleh pada suatu titik, yaitu barisan tanaman perdu yang bergoyang tak jauh darinya. Ia pun tertarik lalu menatapnya lekat-lekat. Kemudian seperti terhipnotis, ia turun dari bangku. Walau limbung pada awalnya tapi ia tetap menapaki rerumputan dengan mata berbinar-binar. Tapi lama kelamaan binar-binar di mata ambernya pun sirna dan tergantikan oleh tatapan kosong. Tubuhnya berubah tegang dan langkahnya begitu kaku. Ia berjalan pelan tanpa jejak di atas tanah dan rumput yang ia tapaki.

Angin bertiup dan membuat rambut merah tembaga milik gadis itu meliuk kemana-mana. Namun ia tak peduli dan terus mendekati rerimbunan perdu.

"Patt ...," ucap gadis itu lirih sambil menyibak rerimbunan di hadapannya.

Tanpa ragu ia merangkak masuk ke dalam rerimbunan dengan seulas senyum terkembang di wajahnya yang pucat. Dan tak lama kemudian tubuhnya pun lenyap ditelan rerimbunan.

Kabut mulai menipis.

Tikus tanah yang mengintip dari gundukkannya yang nyaman mendadak mencicit saat terganggu oleh sesuatu yang bergerak kasar di atas permukaan tanah. Langit dini hari yang kebiruan segera bergemuruh. Lama kelamaan malah berubah warna menjadi kelabu. Awan nimbus bergerak menyelubungi seluruh permukaan langit tanpa sisa.

Angin musim gugur bertiup lagi, kali ini lebih kencang. Seluruh mahluk penghuni taman meliputi tumbuhan dan hewan seakan ikut meraung-raung menemani angin.

Tidak, sebenarnya tidak bisa dikatakan seluruh, karena rerimbunan perdu tetap terdiam di tempatnya. Tak bergerak dan goyah barang sedetik pun.

---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COPYRIGHT © 2017 · MONOKROM | THEME BY RUMAH ES