Tuesday, May 12, 2020

30 Days of Photos Challenge | Day 4: Pastels

Hari Keempat: Pastels


In frame: Ami & Roger's Epic Detour by Morgan Matson
0

Monday, May 11, 2020

30 Days of Flash Fiction Challenge | Day 3

Day 3: "The sky turned purple."


Langit berubah ungu disaat derai tawamu menghadirkan perasaan hangat di dadaku. Mungkin kamu tak akan pernah tahu bahwa senyummu yang konyol itu sejak dulu telah jadi canduku. Sebab disaat kita bersama kamu tak pernah berhenti bicara dan aku tak pernah berhenti mendengarkan. Aku menyukai suaramu sebagaimana kamu menyukai hening yang kerap kuselipkan di sela-sela waktu. Maka tak heran setiap duduk di bangku bioskop ini aku mesti berulang kali mengingatkanmu untuk menyimpan suaramu itu barang satu-dua jam saja. Sebab kamu selalu saja tak kapok menggerutu di sampingku sampai-sampai penonton lainnya acap kali berdeham keras sambil memelototi wajahku. Ah, kamu memang tidak peka.

Saat ini kamu malah sibuk menengadah, terpana pada langit ungu yang berpijar di layar sana. Kamu begitu fokusnya sampai-sampai lupa bahwa seseorang baru saja melempari kepalaku dengan berondong jagung demi mengingatkanmu agar tidak berisik. Entah datang dari bangku mana namun aku tak terlalu ambil pusing. Mereka boleh saja melempari seember berondong jagung ke kepalaku asalkan kamu tak diusik. Entahlah. Bagiku suaramu tak pernah jadi pengganggu, kapan pun itu.

Jadi jangan heran jika suara berisik di belakangku kini kuabaikan demi mendengar renyah tawa yang kamu keluarkan saat adegan lucu itu akhirnya muncul. Sudah kubilang, suaramu adalah bunyi favoritku. Karena itulah aku tak pernah bosan mengunjungi bioskop ini bahkan disaat-saat lelah. Asalkan ada kamu aku tak apa. Asalkan ada kamu ... aku selalu punya alasan untuk merasa hidup.

Duh, kenapa makin bising pula penonton di belakangku ini?

Rian ... please ... berhenti ya? Kamu mesti rela, Rian. Jangan begini terus. Ya?

Aku memutar kepala karena mengenali sayup-sayup suara barusan. Oh benar, ternyata Annisa. Gadis itu menyentuh pundakku sambil meneteskan air mata. Dahiku berkerut. Apa pula yang membuatnya menangis? Toh kami hanya sedang menonton film dan saat ini sedang tidak ribut pula. Maka dengan canggung aku pun memajukan wajahku sedikit agar bisa berbisik padanya tanpa mengganggu penonton lain. Sebab saat ini mereka kelihatannya mulai curi-curi pandang ke arah kami. Oh, terserah. Mereka boleh melempariku kursi jika perlu.

"Kenapa? Kok kamu nangis? Kami nggak lagi berisik kok, Nis." Aku menutup kalimat itu dengan cekikikan kecil. Setahuku Annisa bukan tipe gadis cengeng. Jadi lucu rasanya jika ia mesti repot-repot mengeluarkan air mata hanya karena keberadaan kami di bioskop ini. Namun kelihatannya jawabanku kurang memuaskan sebab dia malah terlihat semakin frustasi. Gadis itu kini mencengkeram bahuku dan menatapku lurus.

"Yan ... besok kita ke makamnya lagi ya?"

"Hah? Maksudnya gimana sih Ni—?"

"Yan ... kamu cinta Kirana kan?"

Aku tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan Annisa. Bisa-bisanya dia menanyakan hal itu sementara Kirana tepat berada di sampingku. "Memangnya nggak kelihatan ya?"

Mendengar jawabanku gadis itu pun menghela nafas berat sebelum akhirnya berkata, "Rian ... merelakan juga bagian dari mencintai. Karena itu ... cobalah relakan yang udah pergi. Mau ya, Rian?"

---
0

30 Days of Photos Challenge | Day 3: Coffee Break

Hari Ketiga: Istirahat Untuk Minum Kopi


In frame: gelas kopi Nescafe
0

Sunday, May 10, 2020

30 Days of Flash Fiction Challenge | Day 2

Day 2: Lost in the city


"Kenapa di sini sunyi?"

Aku bergumam sambil menyeret langkah pelan-pelan. Pria di sampingku hanya tersenyum simpul sambil mengiringi langkahku. Gang yang kususuri saat ini bukanlah gang sempit nan kotor. Di kotaku mana mungkin tempat seindah ini bisa sepi. Aneh benar. Di depan gang sana sebuah menara beratap abu-abu menjulang tinggi. Sementara di kanan-kiri rerumahan bergaya klasik saling berhimpitan tanpa ada kesan persaingan. Belum lagi tanaman menjalar yang sama sekali tak memberi kesan muram di dinding-dinding bagian luarnya. Satu-dua bangku kayu juga bertengger di sana. Namun tanpa penghuni. Seperti kataku tadi ... sunyi. Sengajakah rumah-rumah di distrik ini dikosongkan hanya demi titel destinasi wisata? Ganjil sekali. Kalau benar begitu mengapa hanya ada kami berdua di sini?

"Hei tuan, bisakah kita kembali ke bandara saja? Aku nggak mau lama-lama di sini." Setengah berteriak aku menghentikan langkah sambil menarik lengan kiri pria tadi. Tak ayal ia pun berhenti. Bukannya merespon, ia malah tersenyum lagi seolah-olah tingkahku barusan wajar. Padahal aku tahu benar harusnya aku sudah dicap tidak sopan. Mau bagaimana lagi, aku tak mengenali tempat ini. Aku juga tak mengenalnya. Entah mengapa aku bersedia ditemani olehnya sejak tadi. Bodoh.

Aku menarik kembali tanganku lalu menyilangkan keduanya di depan dada. Wah, tingkat ketidaksopananku malah naik ke level dua. "Kalau kau kira aku terkesan dengan tempat ini maka jawabanku adalah tidak. Oke? Jadi sekarang ayo kembali ke tempat yang kukenal." gerutuku dengan wajah masam. Entah mengapa pria ini tak menanggapi kekesalanku. Satu-satunya hal yang ia berikan ialah senyuman yang sialnya terlihat menawan. Tunggu, aku nggak akan terperangkap jurus itu.

Lalu tiba-tiba saja ia melangkah lebih dekat sambil mengangkat tangan kanannya hingga berada tepat di samping pipi kiriku. Kaget ... cepat-cepat aku berjongkok sambil menutup kedua mata. Oh, konyol memang. Aku bahkan tak tahu apa tujuan akhir tangan kanannya di pipiku.

Emma!

Terperanjat aku buru-buru membuka mata sambil mengerjap. Entah mengapa langit teduh kota ini tiba-tiba digantikan oleh dinding putih bertuliskan spidol warna-warni. Kesunyian yang ganjil pun ikut lenyap hingga riuh suara manusia mulai kedengaran entah dari arah mana.

"Sudah puas mengembaranya, nak?"

Eh?

Nyonya Fuhrman?

Seketika aku menoleh ke seluruh penjuru hingga akhirnya tersadar bahwa seisi kelas saat ini sedang terbahak-bahak menertawaiku yang baru saja pulang dari kembara. Tak lupa cendera mata berupa liur yang membekas di atas meja.

---
0

30 Days of Photos Challenge | Day 2: Where You Find Inspiration

Hari Kedua: Tempat Menemukan Inspirasi


In frame
Atas: meja baca Perpustakaan Soeman HS Provinsi Riau
Bawah: pinterest homepage
0

Saturday, May 9, 2020

30 Days of Flash Fiction Challenge | Day 1


Day 1: Your character receives a threatening letter

"Shireen?" 

Ketika sunyi mendadak melingkupi petang yang temaram ... Dani tahu ada yang salah. Saat itu juga siluet Shireen terlihat muram tanpa bantuan sinar lampu yang biasanya telah menemani dijam-jam segini. Gadis itu memunggunginya, mengarahkan pandangan ke luar jendela. Biasanya di saat-saat begini selalu ada alunan musik yang mengalun dari gawainya, seiring dengan lantunan kata yang keluar dari bibirnya. Namun entah mengapa saat ini berbeda. Seolah gadis ini sedang memeragakan salah satu adegan dari film bisu yang kerap ia tonton di akhir bulan. Indah, namun terlalu menyedihkan jika tokoh utamanya adalah Shireen. 

“Umm … kamu nggak apa-apa ‘kan?” Sekali lagi kata terucap. Namun gadis itu tak juga merespon. Bahunya naik turun, sementara isakan samar terdengar beriringan dengan lirih tangisan. Di sudut kamar, tak jauh darinya tergeletak selembar kertas putih bertuliskan tangan. Kertas itu tampak remuk dengan tinta yang meluber di beberapa bagian. Dengan langkah ragu Dani mendekatinya, menunduk, lalu memungut kertas yang kini ia kenali sebagai sepucuk surat. 

Beberapa detik pandangannya terpaku pada surat itu. Meski beberapa kata mengabur karena tetesan air yang ia yakini berasal dari mata Shireen, ia tetap dapat menangkap pesan apa yang ada di sana. Berita apa yang kiranya telah membuat gadis di hadapannya itu berkabung. Bukan berita baik memang, sebab ia langsung menelan ludah dan meremuk kertas yang telah remuk sebelumnya itu. 

“Nggak. Nggak usah dibahas. Aku mau istirahat.” Dengan lirih Shireen mengucapkan kalimat itu. Ia tahu pria di belakangnya telah membaca surat yang tadi ia lemparkan begitu saja ke sudut kamar. Lalu tiba-tiba saja ia bangkit sambil menunduk. Dengan tergopoh-gopoh ia berjalan melewati Dani sambal menutupi wajahnya yang sudah tak keruan. Pikirnya ia bisa lari begitu saja. Namun Dani ternyata beberapa langkah lebih cepat darinya hingga akhirnya bisa menghadangnya. Nyaris saja gadis itu lolos dari pandangan matanya. 

“Dan, aku ma—“ 

“Enggak. Kamu nggak bisa gini, Shi. Kita kan udah tunanga—“ 

“Batalin aja.” 

Kali ini Shireen mengucapkan dua kata terakhir sambil mendongak. Dengan perasaan campur aduk ia menatap wajah pria yang berdiri di hadapannya itu. Ia punya seribu sumpah serapah, namun kata-kata itu hanya bergelayutan di ujung lidah tanpa mampu diucapkan. Ia tahu untuk yang satu itu ia tak pernah bisa tega. Jadi ia pun hanya bisa terpaku memandangi wajah Dani sambil memutar kembali untaian kalimat yang menghantuinya sejak siang hingga petang tadi. 

Shireen, tolong bilang ke Dani jaket abu-abunya ketinggalan lagi di rumahku minggu lalu. Di sakunya ada tiket kereta ‘kan? Kalau hari ini nggak diambil aku post aja ya foto kami saat akad ke instagram? Jarang-jarang lho ada kesempatan begini. Lagian kapan lagi keluargamu tahu kalau calon suamimu pembohong besar? Oke, Shireen?

Regards,

Vanessa

---
0
COPYRIGHT © 2017 · MONOKROM | THEME BY RUMAH ES