Rabu, 25 April 2012

Behind The Mist (1)


When The Moon Smiles

Sepotong bulan berwarna kuning pucat tengah membentuk lengkungan bak seulas senyum dari balik awan-awan kelabu. Berkas sinarnya yang agak redup hanya mampu menyorot sebagian kecil area pekarangan di samping pondokan yang telah dipenuhi tumpukan jerami kering kiriman pak tua Hicks dari peternakan di distrik sebelah.

Well, sebenarnya aku nggak peduli-peduli amat pada jerami-jerami itu, namun nyatanya benda-kurus-panjang-penyebab-gatal itu agak mengganggu sebaris muskari biru yang tumbuh di pojok pekarangan. Dan Kimberly tentu saja—dengan senang hati—akan menyemburku dengan segala tetek bengek tentang ketidakbecusanku mengurus pondokan ini hanya karena tanaman hiasnya terganggu. Dan lagi siapa sih yang membiarkan peternak kuda itu menaruh jerami di pekarangan?

Dasar tidak tau aturan!

Mengingat kemungkinan besar tak akan ada seorang pun penghuni pondokan ini yang rela memindahkan jerami-jerami itu dan lagi-lagi bakal aku yang jadi tumbal, mau tidak mau aku terpaksa harus berhenti mengunyah muffin. Lalu memungut remah-remahnya yang tercecer di atas meja sambil tetap memandang potongan bulan dari balik jendela besar tak bergorden di ruangan ini. Ketika aku mulai melangkah menuju pintu samping, tiba-tiba terdengar suara berdebam keras dari lantai dasar yang akhirnya berhasil membuatku terlonjak kaget dan menjatuhkan kembali remah-remah muffin dalam genggamanku.

Sial!

"Kenneth?" panggilku agak keras. Aku melangkah dengan ragu-ragu menuju dapur. Di bagian lantai kanan di samping bak pencuci piring terdapat lubang besar berbentuk segi empat yang bermuara pada tangga menuju basement.

Oh, please ... jangan paksa aku melakukan ini! Kenneth bisa meledak jika tau bahwa aku masuk ke ruang pribadinya, tapi-tapi jika ada pencuri bagaimana?

Dan ... dan ... baiklah, kurasa nggak ada salahnya mencoba. Jadi, sambil menuruni tangga rendah itu otakku sibuk menerka-nerka apa benar Kenneth telah pulang atau mungkin benar-benar ada pencuri yang masuk. Karena seingatku seluruh penghuni pondokan telah pergi ke pasar malam di alun-alun sekitar dua jam yang lalu, terkecuali aku karena harus memanggang muffin untuk mereka.

Ketika kakiku telah menapak di dasar lantai, keremangan dari dalam basement pun menyergap. Cahaya remang dari lampu minyak berjelaga yang tergantung miring di dinding ruangan juga terlalu menyedihkan untuk dianggap sebagai sumber penerangan di tempat ini. Tapi tak kusangka Kenneth bisa betah berada dikeremangan, buktinya ia lebih memilih basement dibanding ruangan lain yang lebih layak untuk dijadikan ruangan lukisnya.

Dan point pentingnya—ternyata selain benda-benda milik Kenneth—sejauh ini aku nggak menemukan siapa-siapa. Semoga saja mataku nggak salah. Tapi, untuk berjaga-jaga—kalau-kalau saja penglihatanku sedang buruk—maka aku pun berputar-putar mengelilingi basement demi mencari benda apapun itu yang telah repot-repot membuatku penasaran dan masuk ke ruangan ini.

Akhirnya setelah agak lama mencari dan lagi-lagi nggak ada apapun yang mencurigakan, aku pun terduduk di kaki tangga. Ruangan tanpa ventilasi ini berhasil membuat keringatku bercucuran di sepanjang punggung, pelipis juga leher. Namun ketika hendak bangkit, ujung jariku tak sengaja menyentuh sesuatu yang menyebarkan sensasi aneh pada kulit. Sempat merinding, aku pun buru-buru berbalik dan menyibak keset kaki kumal yang menyembulkan sesuatu dari salah satu sisinya itu.

Nafasku tertahan untuk sepersekian detik lamanya.

Dan setelah kuamati baik-baik-ternyata 'sesuatu' yang tadinya agak menakutkan itu hanyalah sebuah buku catatan kecil. Sampulnya terbuat dari kertas bertekstur kasar dengan warna pasir—mungkin. Maksudku, dalam ruangan berpenerangan lampu minyak kan hanya warna kuning yang begitu dominan, jadi mungkin saja aku salah memperkirakan warna.

"Oh, ya ampun! Kenapa ada muffin sisa di atas lantai, sih? Mana gadis itu? Dasar jorok!"

Oh, tidak.

"Astaga! Tanamanku!"

Itu suara Kimberly.

Aku buru-buru menyimpan buku itu di balik sweater-ku dan naik ke atas.

Voila!

Tahu-tahu saja Kenneth sudah menyambutku di mulut tangga dengan wajah masam dan kedua tangan yang dilipat di depan dada. Jamie dan Nona Shawn terkejut melihatku, namun mereka hanya berdiri kaku di belakang Kenneth, seakan-akan sudah meramalkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sementara Carson kedengarannya sedang dimarahi Kimberly di luar sana, karena jerami kurasa. Yah, setidaknya aku selamat karena aku nggak sempat ditemuinya ketika pulang, jadi Carson yang barangkali menaruh jeramilah yang dimarahi.

"Apa yang kau lakukan di tempatku?" tanya Kenneth dengan nada mengancam. Kedua tangannya terkepal, bersiap-siap menghajarku barangkali. Namun dari matanya, aku seakan-akan tengah menyaksikan luapan emosi yang tampaknya sedang berusaha ditekan dalam-dalam.

"Ken, maaf. Tapi kurasa tadi aku mendengar suara aneh dari bawah, dan-dan aku cuma mau memastikan bahwa nggak ada pencuri yang masuk. Jadi—"

"Oh, ya ampun, Lizzy ... jadi kau sengaja nggak pergi karena mau mengutil barang-barang kami, ya? Dasar nggak sopan!" tiba-tiba saja Kimberly muncul di pintu dapur dengan dua plastik besar belanjaan di tangannya. Ia lalu memasang ekspresi keterkejutan luar biasa yang terlalu dibuat-buat di wajahnya.

Well, Kalau tau begini aku nggak akan masuk ke sana dari awal.

"Ken, Umm ... kau mau muffin? Biar kusiapkan ya?" Nona Shawn coba mengalihkan perhatian Kenneth namun gagal. Cowok bermata gelap itu tetap memandangku dengan wajah masam dan tangan terkepal.

"Seharusnya kau belajar dari pengalaman dong Lizzy. Memangnya kau nggak ingat saat Carson di—"

"Kimmie," Nona Shawn menyelanya, lalu menaruh beberapa cup muffin di atas nampan. Kimberly malah mendengus sebal lalu menjejalkan belanjaannya ke dalam lemari makanan. Kuharap dia membeli buah khaki agar bisa kujejalkan kemulutnya yang cerewet itu.

"Eh, kalian kena ... pa?" Tiba-tiba Carson muncul di balik Jamie dengan tangan yang sibuk menggaruk-garuk tubuhnya. Jamie lalu menahannya agar tidak mendekat lalu membisikkan sesuatu di telinga Carson. Dan Carson tampak terkejut mendengar perkataan Jamie itu.

"Baiklah, semoga malammu menyenangkan, Lizzy." ejek Kimberly sambil melenggang santai melewatiku.

Aku hanya terdiam. Setidaknya ini bukan saat yang tepat untuk membalasnya. Kalau saja waktunya lebih tepat, mungkin aku sudah merobek-robek wajahnya dengan kedua tanganku.

Tak berapa lama kemudian, aku pun menarik nafas dengan gugup.

"Umm ... maafkan aku Ken, aku telah lancang. Tapi percayalah aku nggak bermaksud buruk," ungkapku.

Sebenarnya aku agak mengharapkan sesuatu yang dramatis malam ini. Setelah Carson membuat gaduh dengan jeraminya dan Kimberly menuduhku macam-macam kayaknya bakal lengkap jika Ken menonjokku sebagai penutupnya. Tapi kayaknya aku lumayan beruntung, karena alih-alih dihadiahi cacat di wajah Kenneth malah memilih untuk melewatiku begitu saja. Begitu saja seakan-akan sejak tadi aku bicara dengan tembok? Oh, dan nggak lupa ia berhenti sebentar ketika mencapai mulut tangga.

"Hanya kali ini Liz, tidak untuk lain waktu." katanya dengan penekanan pada kata 'lain waktu'. Dan kemudian ia melangkah dengan suara pijakan kaki yang terdengar keras ketika menuruni tangga.

Oh ya ampun.

Ternyata aku selamat.

Padahal awalnya kukira dia akan jadi sedramatis saat ia mengamuk dulu ketika Carson menyelinap ke kamarnya hanya untuk meminjam pisau cukur. Saat itu mereka hampir saja adu jotos sampai babak belur, kalau saja Jamie nggak pura-pura pingsan dan akhirnya membuat Kenneth begitu khawatir hingga nggak jadi melanjutkan perkelahiannya.

"Wah, hebat! Nggak perlu ada yang akting-aktingan untuk menghentikannya. Kau hebat ya, Liz?" celetuk Carson—seakan baru membaca pikiranku—dengan nada menyindir, lalu ia segera kabur dari dapur. Jamie yang tengah membantu Nona Shawn mengambil muffin pun menggeram kecil mendengarnya. Nona Shawn hanya tergelak lalu menghadiahkanku satu nampan muffin.

"Ini," katanya, "Bawalah ke ruang tengah. Tadi kami membeli banyak kaset. Kau tau 'kan kalau di pasar malam banyak diskon? Rencananya malam ini kita akan nonton film sama-sama." jelasnya kemudian.

"Oh, benarkah?" tanyaku pura-pura tertarik sembari membawa nampan berisi muffin itu ke ruang tengah. Carson telah berada di sana dengan bantal bolanya. Ketika melihatku ia buru-buru mencomot satu cup muffin dari nampan sambil tetap memilih-milih kaset. Jamie dan Nona Shawn lalu menyusul dengan satu gelas besar milkshake dan sebungkus marsmallow juga kripik bawaan mereka.

Di pintu ruang tengah aku berpapasan dengan Kimberly yang tampak kerepotan membawa bantal dan selimutnya. Ia bahkan sampai nggak punya waktu untuk sekedar meledekku.

"Lizzy," panggil Jamie, ketika aku baru saja hendak menaiki tangga menuju lantai dua.

"Ya?"

"Kau nggak ikut nonton? Semuanya sudah berkumpul." tanya Jamie.

"Tidak Jamie, aku ada kerjaan." bualku, entah kenapa.

"Oh, oke. Aku mengerti." balas Jamie dengan terburu-buru. Mungkin filmnya sudah dimulai.

Aku pun juga buru-buru naik dan melengos ke kamarku. Setengah membanting pintu lalu menguncinya agar tak ada seorang pun yang dapat mengganggu. Aku lalu menghempaskan tubuhku di atas ranjang; mengambil nafas dalam-dalam; lalu menghembuskannya sekencang-kencangnya demi menghilangkan stress.

Jika dihitung-hitung sudah dua minggu lebih sejak liburan Mom. Dan selama itulah aku harus mengurus pondokan ini bersama Nona Shawn, sepupu jauhku—yang entah bagaimana caranya bisa ku panggil dengan embel-embel 'Nona'. Tapi sayangnya kata 'mengurus' ini malah beralih fungsi jadi hal lain. Aku dan Nona Shawn harus jadi 'pembantu' sekaligus 'babby sitter' para murid SMA itu karenanya. Ditambah lagi hobi baru Kimberly—yaitu mengejekku—mulai kumat parah sejak Mom nggak ada. Padahal kalau mau aku bisa saja mengusirnya dengan tidak hormat dari sini. Tapi aku nggak tega Mom kehilangan sumber investasinya hanya karena tindakanku yang tidak berguna.

Ngomong-ngomong, kenapa pinggangku rasanya tergesek sesuatu sejak tadi ya?

Aku pun menelusupkan jari-jariku ke dalam pinggang dan mengangkat benda pengganggu itu.

Oh ya, buku itu.

Aku lalu memegangnya dengan sebelah tangan dan mengubah posisiku menjadi telungkup. Dengan tak sabar kusibak halaman pertama, kalau-kalau saja isinya curahan hati Kenneth yang memang sengaja ia sembunyikan dari kami. Namun sayangnya aku hanya menemukan nama 'Eleanor Dunn' yang tergores cantik dengan tinta hitam kekuningan yang hampir saja pudar seutuhnya di sana. Dan halaman-halaman selanjutnya aku tak menemukan tulisan apapun di sana, bahkan setitik tinta pun.

Eh, buku apa ini? Benar-benar nggak berguna.

Aku baru saja hendak membuangnya ke tong sampah di samping nakas. Tapi tindakanku itu mendadak terhenti karena ketika membungkuk—dari balik gorden damask—mataku menangkap sesosok bayangan di balik deretan pohon elm, sepertinya tengah mengawasi rumah ini.

"Lizz?"

Astaga!

Aku hampir saja memekik kalau saja suara itu tak benar-benar kukenal dengan baik. Dan terima kasih pada Jamie yang sudah repot-repot membuat jantungku hampir meletus saking kagetnya.

Dan tiba-tiba saja—walau aku nggak tau kenapa—instingku menyuruhku untuk menyembunyikan buku kecil itu di balik bantal. Setelahnya cepat-cepat kubuka kunci pintu.

"Oh, Jamie. Kau menakutiku, tau?" sungutku dengan bibir mengerucut begitu melihatnya.

Jamie tersenyum kecil dan menatapku bingung.

"Takut? Kenapa kau harus takut?" tanyanya sambil melangkah masuk lalu duduk di pinggir ranjang.

Aku hanya menyandar di pintu, lalu menunjuk jendela dengan daguku. "Coba saja lihat keluar."

"Apa?" Ia lalu mendekat ke arah jendela dan memandang keluar, dahinya berkerut. "Tak ada apa-apa Lizz." ujarnya kemudian.

Aku menggertakkan gigiku dengan geram.

Lihatlah! Sekarang aku mulai terlihat konyol.

Aku pun mendengus "Baiklah," putusku, "Anggap saja aku sedang terkena demam musim gugur sehingga panca inderaku mulai tidak beres." lanjutku dengan senyum dipaksakan. Meski sebenarnya aku cukup yakin bahwa semua alat inderaku masih normal. Jamie hanya tergelak dan mengibaskan tangannya di udara. "Bukan masalah," balasnya. "Tapi jujur saja, sebenarnya apa kau masih kesal dengan Ken atau Kimmie, ya? Makanya kau tidak ikut nonton? Tidak seru jika kau nggak ada, Liz."

Aku menggeleng, "Nope, aku memang sedang ada kerjaan kok. Lagipula Kimberly kan memang biasa begitu. Dan ... soal Ken, itu ... memang salahku."

"Jadi, kau memang sengaja masuk ke kamar Ken, begitu?"

"Eh, iya, tapi aku bersumpah hanya ingin memeriksa bunyi aneh itu. Tidak lucu kan kalau ku biarkan pencuri dengan liarnya mengobrak-abrik kamarnya sementara aku makan muffin dengan santai sampai kenyang?" belaku. Meskipun sedikit, tapi raut kecurigaan bisa terbaca diwajah Jamie. "Oh, begitu? Mmm ... jadi, benar-benar ada suara aneh, ya? Seperti apa bunyinya?" tanyanya gadis itu penasaran.

"Bagaimana ya? Mungkin seperti benda jatuh." jawabku kurang yakin.

"Lalu apa yang kau temukan?" Kali ini dia bertanya dengan nada paksaan. Wah, dimana Jamie yang asli? Padahal selama ini dia tidak tertarik—mungkin lebih tepatnya tidak suka—dengan hal-hal yang menyinggung keabnormalan.

Aku mengangkat kedua bahu, "Nggak ada." bualku. Jamie mengangguk-angguk seolah paham.

"Baiklah Liz, jadi kau mau ikut nonton nggak?" tawarnya dengan riang. Hal itu membuat kedua ujung bibirnya tertarik ke atas, dan ia kini menyuguhkan sebuah senyum manis di wajahnya yang selalu merona itu. Oh Jammie, kau cantik, dan selalu begitu. Kadang-kadang aku iri dengan wajahnya itu.

"Tidak usah berpikir lama-lama, Liz. Ayo!" Ia lalu bangkit dari ranjang dan menarik lenganku bahkan terkesan seperti menyeret-nyeretku.

Oke, kali ini aku kalah dan Jamie menang. Ia memang gadis manis yang berbeda dengan anak SMA lain di pondokan ini. Setidaknya dia nggak sesensitiv Kenneth, seenaknya seperti Carson, atau senyinyir Kimberly. Dan satu hal lagi, meski aku lebih tua hampir dua tahun darinya, tapi ia menganggapku teman sebaya dan itu sangat sangat menyenangkan.

* * *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COPYRIGHT © 2017 · MONOKROM | THEME BY RUMAH ES