Sabtu, 26 Mei 2012

Dear Gregory (3)


Bulan telah tampak, dan beberapa bintang sedang berkedip-kedip disekitarnya. Dan begitulah, kata Mam Suzze malam-malam dimusim gugur selalu menyenangkan. Terlebih di kota ini karena adanya Freimarkt. Dengan tanpa menghiraukan rasa lelah, Mam Suzze pun memutuskan untuk mengajakku pergi ke sana malam ini juga. Nyonya Flynn tentu saja tidak keberatan. Ia malah menawarkan untuk mengantar kami ke sana.

Sebaliknya, dengan mengatasnamakan rasa lelah aku menolak untuk pergi meski Kurt meledekku dan malah mengumbar isu bahwa aku hanya sedang malu menampakkan diri di hadapan Greg. Ya benar, Greg juga ikut. Dan siapa juga yang malu? Toh aku nggak terlalu memusingkan peristiwa di ruang makan tadi. Malah mungkin Greg-lah yang memusingkannya sampai-sampai ia - terhitung sejak dua jam lalu - belum juga menyapaku.

Tidakkah ini terlalu ganjil? Maksudku, bagaimana bisa teman akrabmu dimasa kecil nggak pernah membalas suratmu, nggak menyambutmu ketika berkunjung, dan bahkan nggak bicara sepatah kata pun ketika bertemu denganmu. Apa pengaruh jarak dan waktu memang begitu besar dalam mengubah sesuatu? Sampai-sampai kami berdua malah terlihat seperti dua alien dari galaksi berbeda yang nggak pernah bertemu sebelumnya.

"Kau yakin nggak mau pergi, sayang?" Nyonya Flynn - untuk yang kesembilan kalinya - bertanya padaku, hingga akhirnya ia bergabung dengan Greg, Mam Suzze, dan Kurt yang telah menunggu di dalam minivan. Seharusnya Tuan Flynn juga berada di sana kalau saja ia tak harus bertemu dengan koleganya demi urusan pekerjaan. Dan mungkin karena alasan itu pulalah saat ini Greg yang harus duduk di kursi pengemudi, dengan wajah dingin yang membuatku semakin gerah. Gerah karena sifatnya yang sama sekali aneh.

"Dadah Lea! Jaga rumah baik-baik, ya?" ucap Kurt sambil melambaikan tangan dan dua detik kemudian ia pun diserang oleh jurus tatapan tajam ala Nyonya Flynn. Aku tergelak lalu bergegas bangkit dari lantai teras begitu minivan itu hilang dari pandangan. Tak baik juga berada di luar rumah disaat angin musim gugur berhembus lebih kencang dari biasanya dan mungkin saja bisa membuatmu merinding karena sapuan halusnya pada kulitmu.

"Berhenti disitu,"

Sebuah suara bernada perintah mendadak membuat langkahku terhenti ketika aku tengah memutar kenop pintu. Dengan paranoidnya aku pun segera berbalik tanpa melepaskan tanganku dari kenop pintu, berharap bahwa aku nggak sedang dihadapkan dengan situasi antara hidup dan mati.

"Oke," kata si pemilik suara begitu kami saling berhadapan, "Santai saja Alea, aku nggak berniat jahat padamu, dan hei! Kau nggak ngompol, kan?" ucap orang itu dengan nada meremehkan. Setelahnya tawanya terburai, memecah keheningan. Dan sialnya aku hanya dapat terdiam dengan gerak tubuh yang kaku dan malah nggak melawan.

Oke, apanya yang lucu?

Dan kenapa juga ia memanggilku dengan nama Alea?

Maka, dengan keberanian aku pun mempelototinya agar ia tersadar. Dan beberapa saat kemudian - mungkin juga karena ia sudah puas menertawaiku - pemuda itu berdehem kecil entah untuk apa, lalu berjalan ke arahku dan berhenti tepat di depan pintu sambil menyangga tubuhnya dengan sebelah tangan. Dengan sunggingan senyum yang konyol ia memegang kenop pintu, dan oh ya, menyentuh tanganku juga. Karena merasa nggak nyaman, buru-buru kulepaskan tanganku dari sana.

"Oke, cantik, maaf. Aku hanya bercanda. Jika kau bertanya-tanya kenapa aku berada di sini sebaiknya kau tanyakan saja pada Greg. Jujur aku juga bingung kenapa ia menyuruhku menjaga rumahnya padahal kau sudah ada di sini. Dan lagi kebetulan William masih ada di kamar Greg, harusnya dia sudah pulang. Jadi, jika kau nggak keberatan, boleh aku masuk?"

Aku terdiam beberapa saat untuk memproses omongannya yang begitu cepat. Setelah yakin bahwa aku sudah benar-benar paham sepenuhnya barulah aku buka mulut, "Greg? Dia menyuruhmu ke sini untuk itu?"

"Iya, memangnya ia nggak bilang padamu?"

Aku menggeleng cepat lalu menahan nafas untuk beberapa detik agar aku nggak menangis. Mungkin ini kedengaran cengeng tapi sungguh sikap Greg kali ini membuatku sakit hati sampai-sampai ingin rasanya aku menangis saat ini juga. Coba saja pikir baik-baik, bukankah itu berarti ia nggak percaya padaku? Hingga perlu menyuruh orang lain untuk menjaga rumahnya, begitu?

"Ehm," Sadar karena perubahan air wajahku, pemuda itu pun berdehem lagi, membuatku tersadar dan mau tak mau harus menerima kenyataan bahwa kini Greg dan aku telah terpisah sangat jauh.

"Ng, baiklah. Tapi siapa itu William? Setauku nggak ada siapa-siapa di dalam rumah." tanyaku lesu sambil berusaha menyingkirkan beban-beban yang makin menumpuk di pikiranku.

"William? Oh, dia kucingku. Kalau kau nggak percaya, periksa saja di kamar Greg." jawabnya dengan gaya meyakinkan.

Meski sebenarnya pemuda ini sudah cukup meyakinkanku bawa dia benar-benar suruhan Greg, aku tetap memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan bergegas naik ke lantai dua. Dengan hati-hati aku segera membuka pintu kamar Greg dan-

MIAW!

"Aaa!!!" Aku segera menjerit begitu kurasakan sesuatu mencakar wajahku dengan gerak cepat. Tak dapat menjaga keseimbangan, sontak tubuhku pun terhempas ke lantai dan rasanya sungguh luar biasa hingga aku mengerang-erang kesakitan. Cakarannya mungkin tak seberapa sakit tapi terhempas kuat di lantai itu rasanya sungguh mengerikan. Dan di sela-sela eranganku, tiba-tiba telingaku menangkap suara lain yang terdengar begitu cemas.

"Lea?"

---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COPYRIGHT © 2017 · MONOKROM | THEME BY RUMAH ES