Aku termenung beberapa saat ketika melewati pagar rumah keluarga Greg. Mendadak aku merasa kesepian meski nyatanya aku sedang disambut oleh Tuan dan Nyonya Flynn juga Kurt, adiknya Greg dengan keriuhan. Bahkan Mam Suzze pun terpaksa harus menyikutku agar aku membalas sambutan keluarga Flynn.
"Biar kutebak, Lea, kau mencari Greg kan?" tanya Kurt blak-blakan.
Aku pun tertunduk malu sambil memilin-milin syal fleeceku.
"Kurtiz, jangan usil! Dan cepat masuk ke dalam kalau kau masih ingin dapat jatah makan malam." Nyonya Flynn menegurnya dengan pandangan jangan-macam-macam.
Kurt malah mencibir, lalu tiba-tiba menarik tas pradaku dengan gerakan cepat. Belum sempat Nyonya Flynn buka mulut, ia sudah berlari ke dalam rumah.
"Dasar anak nakal! Ya ampun, maafkan kami Suzzie. Kurt memang agak nakal." Nyonya Flynn buru-buru minta maaf. Lalu mengajak kami masuk ke dalam rumah.
Ketika aku hendak masuk, Tuan Flynn menawarkan diri untuk membawakan koperku. Sementara ia berusaha bersikap seramah mungkin, dalam hati aku hanya mampu berharap agar Greg cepat pulang dan Kurt tidak mengapa-apakan tasku.
"Dia akan pulang sebentar lagi nak. Jangan khawatir," ucap Tuan Flynn seakan tau apa yang tengah kupikirkan. "Dan kuharap kau nggak terkejut saat melihat Greg nanti. Dia bukan Greg kecil yang lugu lagi." lanjutnya.
Hatiku mencelos.
Benarkah Greg yang sekarang berbeda jauh dengan Greg yang dulu?
* * *
"Lea, sudah empat kali lho." ucap Kurt sambil menatapku dengan wajah polosnya ketika kami sedang menikmati makan malam.
Sungguh mengejutkan jika mengingat tradisi keluarga Flynn yang selalu membiasakan kekhidmatan ketika makan—setidaknya dulu begitu. Cuma Kurt-lah yang tampaknya berani melanggar hal itu dan aku nggak tau apa alasannya.
"Kurt," Tuan Flynn menegurnya. Begitu juga dengan Nyonya Flynn, namun dengan cara berbeda. Wanita itu melirik tajam ke arah Kurt. Entah bocah ini terlalu polos atau ia memang sengaja bertingkah. Terlebih umurnya sudah 9 tahun dan kurasa harusnya ia sudah paham tentang etika.
"Mum, tau nggak? Lea sudah empat kali melirik Greg sampai detik ini lho."
"Uhuk," Aku spontan terbatuk ketika mendengar ucapan Kurt yang benar-benar mengena.
Mam Suzze yang duduk di sampingku buru-buru menyodorkan secangkir air. Bahkan Nyona dan Tuan Flynn memarahi Kurt berbarengan karena melihatku terbatuk mendadak. Namun di sela-sela amarahnya, Nyonya Flynn tersenyum simpul ke arahku. Dan tindakannya itu malah membuat batukku tak kunjung reda. Bukan itu saja, pipiku pun rasanya mulai bersemu menahan rasa malu yang menyerangku kali ini.
"Ma-maaf. Uhuk, ak-ku ingin ke to-ilet." kataku terbata sambil bergegas kabur dari ruang makan dan lari terbirit-birit menuju toilet yang berada di seberang dapur.
Ketika berada di dalamnya aku segera memutar keran dan membasuh wajahku sekalian berkumur untuk membersihkan mulutku yang dipenuhi kalkun saus tomat. Setelahnya kutatap pantulanku di cermin. Dan benar saja, wajahku benar-benar memerah seperti baru terserang flu. Aku memalukan! Bagaimana bisa Kurt menangkap basah ketika aku melirik Greg? Sungguh bocah nakal yang menyusahkan. Tampaknya aku harus hati-hati padanya.
DOK! DOK! DOK!
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" suara Nyonya Flynn terdengar nyaring di luar pintu.
"Ya, Nyonya Flynn. Aku baik-baik saja." ucapku, disusul suara derit pintu yang kubuka.
Aku pun disambut oleh wajah cemas Nyonya Flynn. Ia bahkan membawakan sapu tangan, air mineral dan kantung obat sekaligus. Agak berlebihan menurutku.
"Aku baik-baik saja." ucapku canggung.
Wanita itu terdiam beberapa saat, "Kuharap begitu, Lea. Dan maaf jika Kurt bertindak aneh lagi, dia memang berbeda." ucap Nyonya Flynn dengan wajah penuh penyesalan. Setelahnya ia menggamit lenganku ketika berjalan menuju ke ruang makan. Dan kabar baiknya, ternyata Greg sudah nggak ada di sana.
Bagus!
Tampaknya ia nggak suka jika dilirik terus-terusan olehku. Dan sekali lagi, itu membuatku sedih untuk yang kedua kalinya. Ternyata Greg memang sudah berubah.
---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar