Alex membawaku menuju gudang bawah tanah, bagian terbawah perkemahan yang selalu bau apak dan beraroma lumpur di hidungku. Ia mendudukkanku di atas tong-tong berisi botol anggur kosong yang ditumpuk rapat. Setelahnya ia mengacak-acak laci perkakas dan mencari gunting; memulainya dari poniku hingga ke rambut sebatas pundakku. Telaten, kukira dia bisa jadi penata rambut yang hebat jika saja dia nggak harus terjebak bertahun-tahun denganku di tempat yang terbelakang ini. Matanya awas, fokus pada rambutku—selalu, sih. Memangnya kapan dia mau memandangku tepat di mata?
Rambutku hampir dibabat sampai sebatas bahu, sebentar lagi. Tapi tahu-tahu jemari tangan kananku sudah hinggap di pergelangan tangan kirinya. Alex tersengat listrik, jika boleh kutafsirkan. Dia berhenti memotong rambutku dan menunduk lebih dalam. Aku heran bagaimana bisa dia menjelma jadi orang bisu setiap saat, kecuali saat sedang berhadapan dengan latihan dan aktifitas yang mewajibkannya bicara padaku. Aku geram. Dan lagi, tahu-tahu aku sudah bangkit dan memeluknya tanpa memikirkan apa-apa lagi. Guntingnya terjatuh ke lantai, aku nggak peduli. Kutumpukan hidungku pada bahunya yang beraroma aneh: perpaduan antara mentega dan pepohonan. Bau yang ... well, bakal kurindukan.
"Tapi Jill—"
"Jangan buat aku menangis, diam sajalah." potongku dengan suara sehalus bisikan.
Kupeluk tubuhnya erat-erat, meredam sesak yang membuatku hampir meledak. Tangannya terpaku di samping tubuhnya, nggak sedikitpun menyentuhku. Dia nggak membalas pelukanku, itu saja sudah cukup membuatku ingin menangis. Tapi aku nggak peduli, toh jika ini salah. Walau dia tak merespon pun, detak jantungnya yang berkejaran terasa jelas di sana. Nafasnya memburu, seakan menahan beban. Beban yang tak ku mengerti.
Aku merapatkan wajahku di telinganya, "Aku nggak bisa begini terus, Alexander." kataku sendu sambil melepas pelukanku. Melepas aromanya yang membuatku mabuk.
Aku lalu lewat di sampingnya dan melangkah dengan nelangsa. Nyawaku seakan ditarik separuhnya saat langkahku semakin dekat dengan pintu. Dan ... oh, seperempat dari setengah yang tersisa malah dicabut paksa saat kulihat Gareth bersandar di belakang pintu dengan senyum setengah hati.
"Kau ... ng ... belum berganti pakaian?" tanyanya dengan nada riang yang gagal. Lututku terasa lemas, sendi-sendinya seakan melebur pelan-pelan.
Aku menunduk, memandangi sisa rambut pada sepatuku. "Ya, tentu," Suaraku terdengar berat, "Rambutku baru saja selesai dipangkas, kok. Mm ... aku akan mencari Adele untuk menanyakan bajunya." lanjutku dengan suara bergetar.
Sekali lagi aku berlalu, tanpa memandangi apa-apa. Namun terhenti saat hendak menaiki tangga menuju lorong atas. "Sejak kapan kalian begini?" tuntut Gareth, nada riang yang gagal tadi telah bertransformasi menjadi nada menuntut yang digelayuti emosi. Dad tampaknya gagal menyelamatkan hidupku dalam samaran, toh saat ini nyawaku seakan hampir musnah seluruhnya.
Tidak, "Tidak."—aku menelan ludah susah payah—"Tidak sejak kapanpun, Gee. Hm ... kau sudah lihat sendiri." jawabku muram.
Setidaknya aku jujur, dan dia tahu. Dia juga melihatnya sendiri. Dan ... yah, kini dia tahu, gadis yang biasa menatapnya dengan tatapan merayu itu sudah lepas dari dunianya. Gadis itu berkhianat. Pengkhianatan yang gagal.
Alex nggak menyayangiku. Dan itu membuatku ingin menangis keras-keras. Tapi ... ini nggak benar.
Aku tahu-tahu—lagi—telah berlari kembali ke ruangan tadi. Memeluk Alex dari belakang, menghadapi punggungnya yang lembab oleh keringat. Ia belum beranjak juga sejak tadi, dia memang bodoh ... dan aku menyukainya.
Aku nggak bisa lagi berpura-pura menyukai Gareth. Tidak, aku hanya memanfaatkannya. Salahku.
Tapi tiba-tiba nafasku tercekat, Alex menyentuh tangan kananku yang semula melingkar di perutnya. Lalu naik ke dadanya ... ke bibirnya, dan ... ia mencium bekas luka di punggung tanganku. Luka yang mengikat kami. Aku mau menangis, demi apapun. Hal itu membuat jemariku gemetaran.
Tak hanya itu, ia lalu menyentuh tangan kiriku dan membawanya menuju dadanya, jantungnya—yang melompat-lompat. "Aku ... aku tidak bisa Jill. Selama aku harus mengawalmu kita nggak bisa terlibat perasaan, prajurit Jill. Ini salah, kau tahu ini salah."
Aku mau muntah, sumpah prajurit.
Aku terjebak, ada yang salah di sini. Alex benar, ini salah. Sumpah prajurit telah membakar habis bumbu perasaan di antara kami. Tapi ada bagian dalam diriku yang meronta-ronta ingin dilepaskan. Aku mau mencintai Alex tanpa syarat. Tanpa embel-embel prajurit. Dan ini sama saja artinya aku mengkhianati Dad.
Aku menarik kedua tanganku darinya dan kembali memeluk Alex, kali ini lebih erat. "Jika begitu ... biarkan aku jadi pemberontak. Biarkan ... aku ... aku—"
Aku nggak bisa mengatakan apa-apa. Pelukanku melonggar dan aku menangis. Aku nggak mencintai Gareth, tapi aku mengatakan yang sebaliknya pada Dad. Membiarkan kami bertunangan hingga aku bisa menikah dengannya setelah umurku 20 tahun nanti. Cap jari prajuritku telah menjejak di lembar perjanjian.
Aku bakal dibunuh penduduk jika menyeleweng dan malah menikahi orang lain. Tapi ... perasaanku pada Gareth telah menyusut, serupa balon yang kempes. Dua prajurit nggak akan bisa bersatu, selamanya.
Aku melepaskan pelukanku mendadak, lalu mengepalkan kedua tanganku marah. "Kalau begitu aku akan menyusup ke distrik lain saja!" bentakku. Alex berbalik, "Kau nggak—"
"Jangan melarangku! Kau ... kau nggak bisa meninggalkanku begini saja, Alex! Tidak setelah apa yang tadi kau lakukan! Tidak setelah apa yang kau katakan!" Aku berang. "Tidak setelah kau menyentuhku dengan cara begitu! Tidak setelah kau berani memandangku dengam cara itu." Air mataku meluber kemana-mana.
Jika saja dia nggak menunjukkan beban yang ia sembunyikan tadi ... aku nggak akan begini. Aku akan menyamar, jadi prajurit setia, dan ... jadi istri Gareth, kelak. Jadi ... pembohong.
Alex terjatuh, berjongkok. Bertumpu pada lututnya di atas tanah, di hadapanku. Perlahan ia membungkuk, condong ke arahku ... pada sepatuku. Ia lalu menyentuh sepatu kananku dengan telapak tangan kanannya selama beberapa saat. Tak lama ia lalu menarik tangannya dan menelungkupkannya di dada, matanya terpejam.
"Maaf, maafkan aku." lirihnya.
Ia lalu bangkit perlahan dan membungkuk dalam-dalam. Setelahnya melangkah pelan melewatiku, meninggalkanku terhenyak di tempat. Aku terguncang.
Itu ... tradisi terkuno kaum kami, hanya untuk istri prajurit yang akan ditinggal berperang. Hanya untuk ... istri para pengkhianat. Aku pernah melihatnya langsung beberapa kali saat Dad menyergap beberapa pengkhianat di hutan timur. Dengan mantap para pengkhianat itu meninggalkan istrinya setelah melakukan tradisi semacam itu. Dalam kasusku, katakanlah calon istri.
Terdengar helaan nafas berat di belakangku. "Well, dia berkhianat sekarang ya? Demi kau." Gareth menimpali dengan sinis. "Hm ... terima kasih untuk kepura-puraanmu." tandasnya sambil lalu.
Aku mematung, ini ... jauh lebih berat dari apa yang aku bayangkan.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar