Selasa, 15 Juli 2014

Malam Lentera


Ada saat ketika seluruh lonceng yang tergantung di pintu depan rumah seluruh distrik bagian selatan berdenting tak karuan. Angin menyapu serambi dan daun-daun kering di halaman, dan bulan ditutupi awan tebal. Langit kemerahan dan seekor kucing hitam mondar-mandir di jalanan: pertanda rumah lentera belum redup seluruh sinarnya.

Semua warga berdiam diri di rumah masing-masing, bahkan pria-pria yang sering nongkrong di ujung gang dan mabuk-mabukan. Yah, tanpa terkecuali. Setiap tubuh meringkuk di dalam selimut masing-masing, tak sepenuhnya tertidur tenang. Banyak di antaranya yang masih gelisah menunggu lonceng-lonceng terdiam, menunggu langit tak lagi kemerahan. Jika hal itu belum terjadi, hingga pagi menjelang biasanya tak banyak yang tenang.

Berbeda dengan mereka semua, Jill malah terduduk di balik jendela kamarnya yang terbuka lebar. Angin menampar-nampar wajahnya, namun ia nggak peduli. Nggak ada yang terjadi, pikirnya. Po, kucingnya yang serupa alat pel menggosok-gosokkan diri di kakinya.

"Ayolah Po, semuanya akan baik-baik saja. Kurasa ini hanya fenomena alam tertentu dan-dan kita nggak perlu tidur sekarang. Oke?" gerutunya pada Po. Ia lalu berjongkok dan menggelitiki perut kucingnya sambil tertawa-tawa. Setelah puas menggelitiki kucingnya ia lalu membuka laci nakas dan mengeluarkan secarik kertas.

Alam membawamu dan dua dunia akan bersatu. Ingat, yang terpilih adalah kunci.

Jill mendengus, kertas itu serupa perkamen. Tinta tulisannya mengering dan hampir-hampir tidak terbaca. Jill berencana menanyakannya pada Mum saat pulang sekolah tadi, tapi urung karena Mum terlalu sibuk mempersiapkan malam lentera. Padahal hanya Mum yang bisa ia tanyai. Gary, ayah tirinya hanya akan menatapnya jijik dan menyuruhnya menjauh dan jangan pernah bicara omong kosong. Jill selalu ingin tahu banyak hal, dan rasa puasnya tak pernah terobati karena Gary nggak pernah membiarkannya mempunyai ponsel atau akses internet sekalipun di rumah. Gary bilang dia harus berhenti jadi makhluk instan, cari tahu sendiri. Bacalah, apapun. Telitilah, jangan menyulitkan orang lain. Jadi Jill hanya bisa berkutat dengan perpustakan pribadi Gary yang luas di basement atau kalau beruntung meminjam ponsel Hunter saat di sekolah.

Jill merasa dipenjara. Setiap hari ia selalu dijemput Pak Tua Hicks sepulang sekolah, tak pernah punya waktu bermain. Namun, jika Gary sedang tak di rumah, Jill sering menyelinap lewat loteng dan keluar: berlari di sepanjang hutan, di pinggiran pantai atau bergulat dengan Hunter di kubangan lumpur sampai ia menang. Tentu saja, sepulang dari itu semua pelayan bakal repot membersihkan jejak kenakalannya agar Gary tak curiga. Bagaimanapun juga, mereka menyayangi gadis kecil itu.

Namun kali ini dia nggak bisa berbuat apa-apa. Fakta bahwa ia malah membuka jendela dan bukannya tidur di malam lentera sesungguhnya sudah melanggar peraturan. Tapi ketika angin menerbangkan kertasnya ke luar jendela, hal itu sukses membuatnya kalap. Seakan-akan kertas itu adalah separuh nyawanya, menghantarnya melompati jendela dan terguling di halaman. Po mengeong ribut dari jendela kamarnya.

"Tenang, Po, tenang. Aku cuma ingin mengambil kertasku." katanya sambil mengintip dari balik pagar kayu yang dibuat berselang-seling. Kertasnya tergeletak jauh di seberang jalan. Angin membuat rambut ikalnya menggila, awut-awutan. Dengan langkah pelan-pelan ia memanjati pagar dan menapak di jalanan dengan langkah berdebam pelan.

Lonceng-lonceng terdengar semakin menggila, angin berdesir lembut. Namun beberapa detik kemudian semua suara itu menghilang, lenyap, tersedot entah kemana. Jill menghela nafas, kertasnya hanya berjarak kurang dari 10 meter di depannya. Namun kesunyian ini terasa ganjil, seolah-olah ia berada dalam sebuah ruangan kedap suara. Langit merah terlihat membara di atas kepalanya, Jill terhenyak sesaat. Matanya tiba-tiba terpejam, menempel begitu erat seakan ada lem kasat mata yang disapukan.

"Po ...." ucapnya lirih sambil mengepalkan kedua tangannya di kedua sisi tubuhnya. Lalu seakan tersentak oleh suatu dorongan kasat mata, Jill malah berbelok ke arah kiri dan terus berjalan. Bahkan pemakaman tidak sesunyi ini, pikirnya, lupa pada kertasnya. Setelah hampir setengah jam melangkah, Po lalu berhenti. Matanya terlepas dari apapun itu yang membuatnya terpejam. Saat terbuka, Jill segera menutup mulutnya dengan kedua tangan. Rasanya ia ingin berteriak, namun tenggorokannya tercekat oleh suatu ganjalan.

Kini ia tahu, apa itu malam lentera yang sesungguhnya.

---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COPYRIGHT © 2017 · MONOKROM | THEME BY RUMAH ES