Dear Gregory,
Ini surat terakhirku, semoga hidupmu lebih baik nantinya. Tidak, maksudku kau harus baik-baik saja. Selalu.
Salam Sayang,
Avonlea Breen
* * *
Aku terpekur menatap jalan berbatu yang diselimuti daun-daun kering berwarna kemerahan. Dalam sunyi, mahluk-mahluk malam mengintipku dari balik pepohonan. Mungkin merasa aneh melihat seorang manusia jalan-jalan sendirian di tengah malam dengan linglung. Manusia nekat yang kabur dari satu-satunya tempat yang ia kenal di kota ini. Manusia nekat yang punggungnya masih nyeri. Aku mendesah memikirkan perbuatanku ini. Juga Greg.
Greg yang dingin.
Greg yang sama sekali nggak menyentuh sirup mapel bawaanku.
Greg yang nggak peduli saat menemukanku terkapar di lantai.
Tak seperti yang kuharapkan. Bukan Greg yang cemas karena aku terluka. Bukan. Ia bukan Greg, aku nggak mengenalnya. Greg nggak akan menutup pintu kamarnya seakan-akan nggak ada orang yang terluka di depan pintu kamarnya itu. Ia orang asing, aku harusnya nggak kaget. Tuan Flynn sudah memberitahukanku sejak awal.
Aku tau, kekanakan tampaknya kabur hanya karena hal itu. Tapi aku nggak kuat tinggal lebih lama lagi di rumah keluarga Flynn. Bagi Greg aku akan tampak seperti pengemis. Gadis pengemis perhatian. Baiklah, aku berlebihan.
Aku hanya ingin sendirian saat ini. Dan ... ya, aku mendapatkannya. Avonlea Breen yang bodoh sedang menyeret kopernya di sepanjang jalan yang bahkan tidak ia kenal, sendirian. Dan ia menangis. Ia menangis seperti bayi hingga akhirnya pertahanannya jebol dan ia terduduk di tanah, terisak lebih keras. Lama sekali.
"Apa yang kau tangisi, Lea?"
Salahkah pendengaranku barusan?
Itu?
Aku nggak salah. Itu dia, di depanku. Ia yang ternyata membuntutiku. Ia masih mengenakan pakaian yang sama ketika mengantarkan semua orang ke Freimarkt. Kakinya menyentuh tanah, bukan ilusi. Dan berita bagusnya, ia memandangi wajahku yang menyedihkan. Ia peduli?
"Suratmu itu apa-apaan?" cibirnya kemudian. Seketika harapanku kembali melesak masuk ke perut bumi. Ciut.
Bahkan ketika ia bicara denganku pun aku masih bisa merasakan esensi dingin dari caranya itu.
"Maaf?"
"Surat terakhir apa? Kau kan nggak pernah mengirimiku surat. Jadi suratmu itu apa?"
Kau kan nggak pernah mengirimiku surat.
Nggak pernah mengirimiku surat?
Nggak pernah.
"Kau pasti bercanda," tekanku.
Dia pasti bohong, tidak. Ada yang salah di sini. Tapi aku tak menemukan kebohongan di sana. Greg nggak berbohong, aku tau betul. Matanya tak bisa menipu. Bukankah itu artinya ada yang salah dengan suratku?
Tidak, maksudku pengirim suratku. Pengirim suratku, ayah Ethan. Maksudku Ethan?
* * *
Aku kembali, ke rumah keluarga Flynn. Merenung, terlanjur malu padanya-kau tahu siapa. Selama bertahun-tahun aku salah paham. Selama bertahun-tahun aku berharap ia membaca suratku, namun tak sempat membalas. Pemikiran yang tolol memang. Selama bertahun-tahun suratku tak sampai. Bertahun-tahun Ethan membohongiku. Bertahun-tahun, hasilnya kini aku merasa bodoh. Meski tentang Greg yang nggak membalas surat itu salah, tapi tentang Greg yang berubah itu benar. Dan jujur saja itu pahit. Tapi aku nggak berhak mengutuknya, egois sekali jika aku begitu.
Ia berubah, dan itu wajar untuk manusia normal. Ia berubah, tapi ia masih ingat bahwa aku adalah temannya. Namun ia nggak bisa menerimaku sekarang, itu nyata. Ia dingin, itu nyata. Masalahnya sekarang adalah bagaimana aku berhenti mengharapkan Greg dan menyadarkan diri bahwa angan-anganku tak nyata. Kisah persahabatan jarak jauh ini hanya omong kosong. Percuma Mam Suzze membawaku sejauh ini.
Bertemu teman kecil?
Ethan brengsek.
Sehabis bertengkar hebat di telepon, ia berkali-kali mengirimkan sms maaf. Maaf, maaf. Maaf yang senilai sampah. Ia keterlaluan. Dan alasan bahwa ia nggak senang jika aku berhubungan dengan Greg benar-benar nggak masuk akal. Ia gila.
Dan aku lelah.
...
"Mam Suzze," Aku bersandar di bahu wanita itu, melingkarkan kedua lenganku di lengan kanannya, membaui wanginya. Ia menyipitkan matanya lalu mengelus kepalaku dengan lembut. "Ada masalah, sayang?" terkanya. Aku mengangguk, senang ia mudah memahamiku meski ia bukan ibuku. Ia hanya waliku, pengganti mom dan dad untuk sementara waktu sampai seseorang mau mengadopsiku. Namun ia terlampau baik, akan sulit melepasnya suatu saat nanti. Mom dan dad telah meninggalkan orang yang tepat. Dan mengingat fakta itu mendadak mataku perih.
Aku kangen.
"Mam, aku mau pulang ...." ucapku getir. Emosiku luruh dan melemah, selalu setiap aku kangen pada mereka. Melihatku Mam Suzze lalu memelukku, mengusap-usap punggungku. Ia tau aku sedang labil. Dan cara itu selalu ampuh menenangkanku, membuatku merasa lebih baik. Semacam mood boster.
"Aku mendengar itu, Lea." Mendadak Nyonya Flynn muncul di pintu, tapi ketika melihatku senyumnya perlahan kandas. Ia berjalan cepat ke arahku lalu mengusap wajahku-yang banjir air asin-lembut. "Apa yang terjadi, sayang? Apa Greg menyakitimu? Atau Kurt nakal?"
Aku menggeleng, "Tidak," jawabku dengan suara parau, "Aku baik-baik saja, hanya kangen rumah." Nyonya Flynn kembali tersenyum lalu menatapku dalam, caranya menatap masih sama seperti saat aku masih kecil. "Kau nggak perlu kangen rumah, Lea. Ini rumahmu." ucapnya tulus, membuat air mataku makin meleleh. Cengeng
"Dan ... kau belum boleh pulang, paham?" tekannya.
Aku tak bisa menjawab, ini sulit. Aku benar-benar ingin kembali. Kembali untuk melupakan semuanya. Kembali untuk melupakan yang seharusnya kulupakan. Cukup lama aku menangisi dan merindukan orang lain yang bahkan tak pernah merindukanku. Aku lelah dengan yang kurasakan.
"Aku-aku nggak tau," ucapku bimbang. "Maaf."
Setelah mengucapkannya aku bangkit, lalu berjalan lesu menuju pintu seperti mayat hidup. Meninggalkan dua orang wanita yang terdiam melihat kelakuanku. Mereka menyayangiku namun malah kubalas dengan nggak sopan begini. Pasrah kuseret langkah menuju serambi sambil memegangi wajahku yang masih kasar, bekas cakaran itu.
"Hei, Lea? Mau ikut nonton cricket?"
Semulanya menunduk, kini pandanganku lurus ke depan. Disisi luar pagar Kurt sedang sibuk memasukkan peralatan bermain cricket ke dalam mobil. Ia lalu menyeringai ke arahku.
"Greg yang main."
Ssh, dasar anak ini.
"Aku tid-"
"Tinggallah."
Aku menoleh, seseorang datang dari arah ruang tamu. Ia lalu berdiri di sampingku, membawa tiupan angin musim gugur yang dingin.
"Kau nggak akan mengecewakan ibuku kan?" ucapnya.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar