Minggu, 13 Oktober 2013

Julie and The Oracle's Mind - Prolog


Kala senja mulai melebarkan sayapnya yang berwarna kuning dan jingga di batas cakrawala, sebuah minivan hitam meluncur di jalanan kota yang sepi. Dari balik salah satu kaca jendelanya, seorang gadis bermata hazel menempelkan kedua telapak tangan serta wajahnya di permukaan kaca tersebut.

Matanya awas menyapu setiap objek yang dilewatinya, seakan-akan jika ia berkedip sedikit saja objek-objek yang ditatapinya itu akan berbalik melahapnya bulat-bulat.

Namun lama kelamaan saat semua pemandangan yang ia saksikan mulai terasa mencekik, perlahan ia menarik dirinya mundur lalu kembali duduk dengan pandangan lurus ke depan. Sesuatu yang buruk merayap di pikirannya. Sesuatu yang pernah ia terawang sebelumnya.

Seakan ada yang menyentak, tak lama kemudian pemuda berambut pirang pasir yang duduk di sampingnya segera menurunkan headphone-nya begitu menyadari bahwa gadis itu mulai bertingkah aneh. Ia menekankan jari-jarinya di kedua pahanya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia mengerjap-erjap. “Ju, kau nggak apa-apa?” tanya pemuda itu sambil menarik tangan kanan gadis itu dan membawanya pada bibirnya. Dikecupnya tangan itu lembut, tangan yang kini gemetaran. “Hei, tanganmu gempa.” candanya kemudian.

Gadis itu menarik tangan kiri dari pahanya lalu membekap mulutnya yang mendadak megap-megap seperti ikan. Matanya bergerak liar ke seluruh arah. Dari balik sela-sela jari ia bergumam kecil, “Ini … ini nggak mungkin. Aku … ini … ini …,” Ia buru-buru menarik tangan kanannya dari pemuda itu, Peyton, dengan geram ditangkupkannya kedua tangannya ke wajahnya. Peyton terkesiap.

Tidak lagi Ju!

Dari kursi kemudi Luke melirik sepasang manusia di belakangnya itu, mulanya ia nyengir namun begitu menyadari bahwa Julia mulai bertindak aneh ia segera menurunkan kecepatan dan menepi ke arah pedestrian lalu menghentikan mobilnya.

“Ju?” Ia mengulurkan tangannya ke arah gadis itu, diusapnya pelan rambut gadis itu. Tak ada respon.

“Peyton?” Ia beralih pada Peyton yang mulai panik. Pemuda itu menarik Julia lebih dekat dengannya lalu mendekapnya. “Tidak apa-apa, Ju. Tidak apa-apa.” katanya sambil melayangkan pandangan pasrah pada Luke.

Terakhir kali Julia begini, Peyton dan Luke hampir saja tewas karenanya. Dan kali ini, mereka pasrah. Memang begitulah yang selalu terjadi. Pasti terjadi. Selalu.

Dig!

Gadis itu mendadak terdiam dalam dekapan Peyton. Kedua tangannya turun, pupilnya mengecil seperti kucing dalam kegelapan lalu membesar lagi seperti manusia normal. Perlahan kepalanya tertoleh pada Luke, “Hei, Luke.” Suaranya terdengar ganjil. “Kenapa berhenti?”

Peyton menelan ludah dengan susah payah saat melihat perangai Julie, setelah agak tenang ia lalu berujar pelan pada Luke, “Luke … kita harus bersiap-siap."

---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COPYRIGHT © 2017 · MONOKROM | THEME BY RUMAH ES