Senin, 14 Oktober 2013

Kare - [01 Pesta Rakyat]


Kebenaran itu lebih penting dibandingkan teman maupun lawan - Pepatah Jerman

.

.

.

.

.

.

.

.

Pesta Rakyat.

Entah aku harus melonjak kegirangan sampai kursiku patah atau harus depresi berat dengan keputusan kepala sekolah kali ini. Lagipula—asal tahu saja—yang kumaksud pesta rakyat barusan toh bukan seperti pesta rakyat saat ulang tahun ibukota atau semacam itu lho. Nggak akan ada festival, bazar makanan, panggung musik dan hiburan semacam itu. Yah ... di sekolah kami yang namanya pesta rakyat itu adalah momen-momen saat para guru rapat. Bayangkan saja sendiri, kalo guru lagi rapat murid biasanya pada ngapain coba? Boro-boro ngerjain tugas, kantin tuh penuh. Paling enggak tuh isi kantin habis dirampok ke kelas.

Senang?

Harusnya sih gitu, tapi enggak kali ini. Sejak bangun pagi hidupku muram. Hiperbola banget ya? Tapi beneran deh, muram. Kalo bisa izin nggak datang ke sekolah, aku coba deh. Yang penting nggak datang. Tapi ... tapi ....

Ugh, memikirkan itu saja sudah membuatku kesal. Aku buru-buru mengusir pikiran-pikiran anehku sambil mendongakkan kepala ke arah papan tulis. Entah sejak kapan catatan materi mengenai gelombang stasioner yang tadinya bersih malah di penuhi tulisan-tulisan seperti: Idung Tasya bantet, besok jangan lupa bawa cuka dan nama beberapa akun twitter penghuni kelas ini yang ditulis tebal-tebal.

Dasar!

"Kare!"

Ya ampun! Lihat kan? Kayaknya aku memang harus depresi deh. Dan ... harusnya nggak usah ada pesta rakyat hari ini. Jadi murid-murid tetap belajar di kursi masing-masing. Jadi nggak akan ada yaang mendekatiku, melihat wajahku. Nggak ngeresein orang lain pula kayak makhluk satu ini nih.

Takut ketahuan olehnya aku pun buru-buru menunduk, mengubur kepalaku di balik ranselku yang kerempeng. Namun satu detik kemudian tangan jahil itu pun sukses menarik ranselku dan menepis tangan yang kujadikan tameng di wajahku.

"Hah? Mei-mei?" Olaf terkejut dengan reaksi yang sangat didramatisir begitu melihat wajahku.

Sebal melihat tingkahnya aku pun memikirkan balasan yang setara.

"Upin?"

Bukannya terhina, Olaf malah tertawa kencang. Memang nggak ada alasan sih dia mesti tersinggung, kepalanya kan nggak botak kayak Upin. Justru akulah yang memang pantas ditertawai karena mataku yang kini menyipit layaknya gadis keturunan Tionghoa, iya, kayak Mei-mei. Tapi tetap aja ketawanya itu menyebabkan Juli dan gengnya menoleh sebentar untuk melihatku. Ditya—dengan ukuran kepalanya yang hampir menyamai helm—personil teraneh di gengnya Juli bahkan nyengir begitu melihatku. Ia lalu mengerling.

Ih.

"Ngapa matamu, Re? Dikecup tawon?"

"Mbakmu tawon!"

"Nangis ya? Menye menye?"

"Diamlah!"

Aku berang, menyodok tangan Olaf dengan sikuku hingga ia mengerang. Jujur saja, dua tahun berteman sama Olaf aku tetap aja nggak senang kalo udah disebut menye menye atau cengeng olehnya. Bagiku dia hanya sembarangan berspekulasi, toh dia nggak selalu tau apa masalahku. Emang lebih enakan ngomong sama Pila deh dibanding dia. Dia kan cowok. Ngerti apaan coba? Lagian sepengetahuanku cowok juga nggak suka ngeliat cewek nangis kan?

"Woaa, Kwarin mwagah!"

Tiba-tiba suara Sarah membahana di seluruh penjuru kelas. Padahal ia sedang makan, tapi tetap aja isengnya nggak hilang. Dampaknya beberapa anak cowok meledekku dari balik jendela teras. Dan aku ... malah marah pada diriku sendiri. Entah apa penyulutnya. Seandainya aku nggak datang ke sekolah hari ini, pasti semuanya nggak kayak gini.

Olaf nyengir, lalu ikut-ikutan membaringkan kepalanya di meja, sepertiku.

"Maaf deh, Re, maaf. Gitu aja marah."

Olaf mengusap rambutku di bagian ubun-ubun. Dengan respon yang agak lambat, aku terdiam beberapa saat. Namun tiba-tiba kepalaku tersambar petir dahsyat. Oh Tuhan! Kacau.

"Hah!"

Gerah, aku menyenggaknya sekaligus menepis tangannya dengan garang, tak sengaja pula menendang kursinya hingga berderit agak nyaring dan hampir oleng. Olaf harusnya tersungkur. Seharusnya. Lihat kan betapa payahnya aku mengontrol diriku sendiri? Tak ayal tingkahku itu pun menyebabkan seisi kelas agak terkejut. Aku memang biasa ngomel, tapi nggak pernah segitunya sama siapapun. Apalagi sama teman sendiri.

Tak cukup hanya menyita perhatian kelas, bahkan aku pun berhasil menyita perhatian Sarah hingga ia berhenti menyendokkan nasi uduk ke dalam mulutnya karena garpunya terpelanting ke lantai. Ia terkejut, dua kali lipat lebih besar daripada murid lain. Padahal ia tadi begitu senangnya meledekku. Iya, bercanda. Aku pun tahu.

Tapi karena tak sanggup menerima tatapan aneh yang mereka semua layangkan, aku buru-buru berlari menuju toilet, mengabaikan Olaf yang masih bengong di kelas, mereka yang entah sekarang bertanggapan apa, serta beberapa orang yang menyapaku di sepanjang jalan.

Begitu masuk ke dalam salah satu kubikel toilet, bukannya membaik perasaanku malah semakin kacau. Saking gugupnya kutekan-tekankan dahiku ke dinding.

Ya aku tahu, kedengaran gila bukan?

Tapi mau bagaimana lagi?

Selain kacau karena kucingku hilang, ia malah membuatku kacau karena perilakunya tadi.

Iya, kucing.

Aku masih merasa kehilangan atas kucingku, penyebab mataku bengkak karena menangisinya.

Sudah dua hari dia hilang. Dan meski pada awalnya aku masih bisa menghibur diri dengan meyakinkan pikiranku kalo dia cuma jalan-jalan saja dan tak lama lagi akan kembali, tadi malam pertahananku toh akhirnya runtuh juga. Mungkin bagi kalian ini terdengar mustahil dan hiperbola, lagi, tapi ketahuilah ... saat kau terlalu kesepian, seekor kucing pun bisa membuatku terhibur. Ia temanmu, begitulah kira-kira pandanganmu. Ia tidur di kasurmu, menemanimu mengerjakan PR, bergelung di pahamu, mendengar curhatanmu ketika sedih, mengeong manja. Apa lagi?

Kurang lebih begitulah akibatnya jika kau hanya anak tunggal yang sering mendekam di rumah. Maksudku aku, karena mungkin nggak banyak orang yang punya kasus sepertiku. Dan sungguh ini bukan omong kosong. Faktanya memang banyak hal di dunia yang sering kita anggap mustahil sebelum hal itu kita alami sendiri kan? Tapi memang begitulah adanya, meski punya teman dekat pun kadang aku sering merasa kesepian.

DOK! DOK! DOK!

"Karin, Olaf di luar tuh. Kamu nggak apa-apa kan?"

Entah siapa itu yang memanggilku di luar. Aku nggak mengenalinya, dan nggak peduli sejujurnya. Tapi ia sukses menyulap suasana hatiku menjadi lebih kacau lagi ketika ia menyebutkan nama Olaf. Hasrat itu memberontak lagi di dalam sana. Tempat paling berdebu. Hanya hasrat-hasrat buangan saja yang kujejalkan ke dalam sana. Di sana .... Dan saat hasrat-hasrat itu muncul aku akan sering uring-uringan seperti saat ini. Setidaknya kurasa itulah yang terjadi selama empat bulan terakhir. Sejak caraku memandangnya tak lagi sama. Heh ... kenapa aku malah kedengaran melankolis begini?

Mengerikan.

Belum cukup buruk kehilangan kucing, kendali atas diriku pun hancur berantakan karena hasrat-hasrat aneh itu.

DOK! DOK! DOK!

"Karin?"

"He-eh. Nggak apa-apa, bilang ke Olaf balik aja ke kelas. Nanti aku nyusul." jawabku sekenanya.

"Oh, iya, iya." Suara langkah kaki gadis itu terdengar menjauh.

Aku menghela nafas berat, mataku perih. Aku kacau, semuanya kacau. Harusnya aku pulang saja sekarang. Jangan dekat-dekat Olaf. Jangan menghancurkan diri sendiri dengan sandiwaraku ini. Jangan ... melankolis?

Ssh ... pusing.

Huh ... kenapa setiap habis nangis parah aku harus pusing?

Untuk mengenyahkannya aku segera keluar dari kubikel dan membasuh wajah di wastafel, dinginnya percikan air tanpa kusadari ternyata mampu membuatku jadi lebih segar, meski kepalaku masih saja tetap pusing. Perlahan kulap wajahku dengan lengan baju putihku yang panjang. Wajahku kali ini agak pucat, seperti mayat hidup, belum lagi keadaan sepasang mataku yang terasa tebal dan terlihat mengerikan.

Tak kusangka pesta rakyat kali ini ternyata bisa berdampak buruk. Jauh lebih buruk dari yang kubayangkan. Padahal datang ke sekolah dengan kantung mata bengkak begini saja sudah memalukan. Belum lagi mengatasi hatiku yang nggak karuan. Kacaulah semuanya.

Andai Pila ada di sekolah ini juga, pasti semuanya lebih baik. Maksudku, pasti sangat baik. Nggak akan ada kecanggungan yang membuatku bersikap begini-begini banget.

Ugh, berdiam diri di toilet ternyata nggak banyak membantu.

Aku pun hanya bisa mendesah capek saat menyadarinya, tak lupa memandangi rupaku yang aneh di cermin untuk sesaat lalu memutuskan untuk izin ke guru piket agar bisa pulang ke rumah dan—

"Kar!"

Ya ampun, nggak ngerti bahasa Indonesia rupanya ini makhluk.

"Udahlah, Laf." kataku cuek, sambil berjalan melewatinya.

"Eh, apanya yang udah? Masih pagi gini udah marah-marah nggak jelas."

Aku mendengus, kali ini dengan langkah lebih cepat, sementara Olaf mengikutiku di belakang seperti bayangan.

"Re, eh, woi, tung—"

"HEH!" Aku berbalik sambil memicingkan mata dan menghentakkan kedua tanganku di udara. "Aku bilang udah ya udah ajalah. Ngertiinlah dikit, Laf. Aku lagi pusing, tau!"

Suaraku kentara dirasuki emosi yang berlebihan. Belum lagi dengan bentuk perlawananku yang muncul setelahnya: menantang matanya dengan nyalang. Ya, mata hitamnya yang kelam itu. Sebagai bayarannya sehabis ini tampaknya aku harus belajar mengendalikan hasrat yang kerap menggangguku saat menatapnya langsung seperti barusan. Hasrat yang biasanya meledak-ledak begitu aku melihat irisnya di sana, tepat di sana. Hah ... aku melankolis lagi kan. Uh.

"Oh," Sepasang alis Olaf bertautan, "gitu?" tanyanya dengan nada nggak percaya yang terdengar begitu kentara.

Ya gitu, terus mau apa lagi emangnya?

Ingin kuteriakkan kalimat itu keras-keras di depan wajahnya. Namun urung karena aku nggak ingin menambah masalah lagi. Uring-uringan nggak jelas begini aja udah buat kepala mumet.

"Jadi ... mau diantar nggak?" ucapnya kemudian, nada suaranya melembut, namun tetap saja diselipi rasa takut yang biasa kutangkap setiap aku sedang mengomeli orang lain. Berapa banyak sih orang yang menakutiku? Bisakah kukumpulkan untuk selembar sertifikat World Record? Rasa kesalku rasanya malah membelah diri gara-gara hal ini.

"Nggak," putusku cepat. "nggak usah. Biasanya juga aku naik bis kan?" tembakku kemudian. Satu ... dua .... Kena, Olaf tampak terkejut dengan apa yang barusan ia dengar. Toh benar kan?

Kapan dia menawariku pulang bareng selain saat Pila yang memaksanya? Itu pun cuma lima kali dalam kurun waktu dua tahun. Biasanya boncengan Olaf juga pasti selalu ada kan? Anak English Club yang cakep itu kan? Ngapain dia sok baik sekarang?

Karin, dia kan memang selalu bersikap baik padamu.

Nggak, dia sok baik.

Sok baik? Kenapa bisa kamu bersahabat dengan orang seperti itu selama dua tahun?

Dia kan teman Pila.

Pila? Sampai kapan Pila akan kamu jadikan tameng?

Nggak cuma itu, dia pasti nggak ikhlas kok ngantarnya.

Emang kalo dia ikhlas kamu mau diantar?

Tapi Pila kan ...

Pila, lagi. Pembohong. Mau sampai kapan lagi kamu membual dan berakting selihai ini? Mau berapa banyak orang yang kamu bohongi karena perangaimu ini? Mau sampai kapan?

Sisi lain dalam diriku mulai lagi berkomentar. Terasa pahit, aku malah melengos, mengacuhkannya—dan meninggalkan Olaf tentu saja—dan buru-buru beranjak ke kelas. Begitu sampai di mejaku, kutarik ranselku yang tergeletak di kursi yang tadinya diduduki Olaf. Bahkan hanya dengan melihat kursi yang didudukinya saja aku sudah kesal sendiri. Kesal yang terus berganda.

"Karin, maafin. Maaf, tadi cuma becanda .... Maaf ya?" Sarah tiba-tiba muncul, menghadangku dengan wajah bersalahnya. Sontak hal itu membuatnya disoraki beberapa penghuni kelas. Tumben.

Aku hanya bisa menggeleng lemah.

"Nggak kok, nggak apa-apa." balasku datar. Baru saja hendak melangkah, aku kembali berbalik pada Sarah. "Eh, nanti tolong bilangin ke Pak Ifan aku izin pulang ya? Kepalaku pusing. Biar aku lapor ke piket dulu." lanjutku dengan suara agak keras, agar murid lain dengar juga. Bukan maksud apa-apa, hanya saja jika Sarah nggak ingat mengatakannya pada Pak Ifan, yang lainnya tetap ingat.

Sebagai balasannya gadis itu mengangguk dengan enggan, "He-em. Iya, Rin, hati-hati ya? Cepat sembuh." ujarnya dengan kalimat ala kadarnya yang basi. Biasanya juga dia senang ngeliat orang lain susah biar bahan becandaannya ada terus. Tumben sekali.

Aku hanya tersenyum tipis, tetap merasa lucu jika melihat tukang ngeledek di kelas yang kini malah berbalik memohon pada bahan ledekannya. Setelah mengangguk kecil padanya aku lalu keluar dari kelas dan menyeret langkah menuju ruangan piket yang terletak di samping pos satpam. Sebelum ini aku nggak pernah pulang jika jam sekolah benar-benar belum berakhir, jadi rasanya ganjil begitu langkahku semakin dekat dengan ruangan itu. Rasanya tak nyaman.

Baru saja kata salam hendak meluncur dari bibirku saat membuka pintu ruangan itu, namun seketika pupus sudah karena dia. Dia di sana, tanpa satu orang guru pun. Oh, aku lupa. Pesta rakyat ya? Bahkan guru piket saja nggak ada.

"Sini!"

Olaf menarik lenganku cepat—tidak kasar. Tentu saja. Dia tidak pernah kasar dan aku membenci kenyataan ini—sebelum aku lari dari ruangan itu. Ia tahu aku pasti lari. Tak hanya itu, ia juga menyudutkanku di pojok ruangan, menumpukan kedua tangannya di atas bahuku. Kelihatan serius dengan tindakannya ini.

Aku mengerut di tempat. Ia membuatku merinding, membuatku menunduk takut karena tak sanggup menatap wajahnya seperti yang tadi kulakukan. Rasanya salah saat orang yang mati-matian sedang ingin kau hindari malah mati-matian pula mengejarmu sampai segininya. Hatiku nyeri, sementara hasrat buangan-sialan itu justru mengaum seperti monster. Hei, mati saja sana!

"Re,"

Aku mendengus kesal.

"Re?"

Aku masih terus menunduk, merutuki diri sendiri. Sekali lagi kesal pada diri sendiri, karena harusnya aku nggak sekolah aja hari ini.

"Kare—"

"Udahlah, Laf ... udah!" ucapku enggan. Sambil bergerak cepat kutepis kedua tangannya dengan kasar. Nggak kreatif memang mengucapkan kata 'udah' berkali-kali pada orang yang sama dan bahkan orang itu nggak ngerti maksudnya apa. Bodo amatlah! Toh semuanya udah kacau.

Karena kesal, tubuhku cepat-cepat membelok tanpa memperhatikan apapun sampai-sampai menabrak meja di dekat pintu. Malang, saat terhenti dan meringis Olaf kembali menghadangku. Lagi, aku kalah cepat darinya. Oh, ingatkan aku kalo aku sedang berhadapan dengan seorang cowok.

Olaf menarik tubuhku, lagi, ke dinding. Ia membentuk palang di samping kanan kepalaku dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menyentuh daguku pelan, memaksa mata kami bertemu di satu titik. Setelah yakin bahwa aku nggak akan menunduk lagi, tangan itu pun kembali turun, membentuk palang di samping kiri kepalaku.

Kurang ajar banget makhluk ini!

"Re,"

Alih-alih ingin menendangnya lagi karena kelakuannya yang abnormal ini, tubuhku malah berdusta dengan tetap bertahan di tempat—tanpa perlawanan—dan bahkan meladeninya dengan ucapan "Apaan sih lu?" yang terdengar bodoh.

Alhasil usahaku untuk membalasnya dengan kasar pun gagal total. Ia malah nyengir sambil berusaha menahan tawa, namun tak berlangsung lama ternyata. Karena setelah itu ia kembali memasang tampang sok serius yang sama sekali bukan gayanya.

Demi apapun!

Ayolah Kare! Katakan apa saja!

Apapun.

"Norak lu, kampret." ucapku spontan sambil berusaha keluar dari palang yang ia pasang untuk memblokade wilayah gerakku. Terlebih cuma itulah satu-satunya kalimat dan cara yang terbersit di pikiranku untuk mengenyahkan rasa gerah yang membombardir dari segala arah.

Awalnya kukira ia akan menahanku lagi seperti yang sebelum-sebelumnya, namun ternyata aku salah. Oh tunggu tunggu, bukan kukira. Tapi kuharap, setidaknya begitulah. Kuakui harapan itu tumbuh di sana dan aku tak bisa mengingkarinya. Tapi begitulah, ia malah membiarkanku menguak tangannya dengan kasar. Lagi.

Dan kemudian suara yang sempat kudengar—meski sayup—sebelum aku benar-benar hilang dari pandangannya adalah:

Iya, iya, Re. Udah. Semuanya bakal aku udahin. Janji.

---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COPYRIGHT © 2017 · MONOKROM | THEME BY RUMAH ES